Banyak Ormas Ilegal dan Komunitas Fanatik Aneh
Fenomena seperti ormas ilegal sok jagoan, sound horeg, aksi kebal-kebalan palsu, hingga berbagai hal lain yang viral di media sosial, tidak berhenti hanya pada tingkat hiburan sesaat. Yang lebih memprihatinkan adalah ketika semua itu mulai diangkat menjadi identitas komunitas. Apa yang awalnya sekadar iseng, lama-kelamaan berubah menjadi bentuk fanatisme.
Ketika suatu hal telah masuk ke wilayah fanatik, maka kritik tidak lagi mendapat ruang. Ini bukan hanya soal suara bising atau tontonan aneh—ini tentang cara berpikir yang telah terbentuk. Ketika seseorang merasa bahwa apa yang ia lakukan sudah menjadi identitas dirinya, maka setiap kritik akan dianggap sebagai serangan pribadi.
Akibatnya, seseorang tidak lagi mampu membedakan antara kritik terhadap perilakunya dan hinaan terhadap eksistensinya. Fanatisme semacam ini membunuh daya nalar. Orang menjadi tidak mampu mendengarkan argumen rasional karena sudah terlalu tenggelam dalam kebanggaan semu.
Baca Juga:7 Rekomendasi Tumbler Premium Terbaik 2025 Harga di Bawah Rp1 JutaBanyak Korban Perdagangan Organ Manusia di Kamboja, Gara-Gara Pemerintah Indonesia?
Fanatisme ini juga yang membuat perubahan menjadi sulit. Kritik tidak lagi dianggap sebagai masukan yang membangun, tetapi sebagai ancaman terhadap komunitas. Dan pola seperti ini bukan hanya terjadi di komunitas kecil, melainkan juga di kelompok-kelompok besar.
Kita sering melihat ketika ada seseorang yang mencoba berpikir berbeda atau mengajak berdiskusi secara kritis, justru dibungkam. Ia dicap sombong, sok pintar, atau bahkan dianggap tidak mencintai budaya sendiri.
Perlu dipahami bahwa fanatisme bukan hanya memperkuat kebodohan, tetapi juga merusak ruang sosial. Mengapa? Karena fanatisme menciptakan tembok antara “kami” dan “mereka”. Siapa pun yang tidak sejalan dianggap sebagai musuh. Siapa pun yang mengajak berpikir dianggap mengganggu.
Akibatnya, bukan hanya sumber daya manusia yang mandek, tetapi juga ekosistem sosial yang menjadi tertutup terhadap kemajuan.
Kalau kita mau jujur, memiliki hobi atau komunitas itu sah-sah saja. Namun, ketika hobi tersebut mulai melanggar hak orang lain, merusak ruang publik, atau dijadikan kebanggaan yang membutakan, maka hal itu sudah masuk ke wilayah yang pantas dikritik.
Bukan karena kita membenci mereka, tetapi karena kita peduli—peduli agar energi, waktu, dan semangat kolektif yang mereka miliki bisa diarahkan ke hal-hal yang lebih produktif.
