Meskipun Indonesia memiliki kilang-kilang dalam skala besar, permasalahan utamanya terletak pada efisiensinya. Mayoritas kilang minyak di Indonesia dibangun pada era 1970-an hingga 1980-an. Sayangnya, sebagian besar dari kilang tersebut hanya mengalami pembaruan minor, sehingga teknologinya kini sudah tertinggal jauh.
Apa dampak dari teknologi yang ketinggalan ini?
Pertama, tingkat konversi minyak mentah menjadi produk bernilai tinggi seperti bensin dan solar menjadi rendah. Artinya, banyak minyak mentah yang tidak dapat dimaksimalkan penggunaannya. Kedua, konsumsi energi dari kilang tua cenderung jauh lebih tinggi karena sistem operasional yang sudah usang.
Sebagai perbandingan sederhana, televisi keluaran awal tahun 2000-an mengonsumsi listrik lebih banyak dibandingkan televisi modern saat ini, meskipun keduanya digunakan di pasar dan fungsi yang sama. Itulah pentingnya pembaruan teknologi dalam industri energi, khususnya kilang minyak.
Baca Juga:Cara Dapat Uang Lewat Giveaway Rans Entertainment, Penipuan Atau Terbukti Membayar?Link DANA Kaget Spesial Akhir Juni Penuh Kejutan, Ambil Saldo Gratis Ini!
Untuk membuktikan betapa tidak efisiennya kilang minyak di Indonesia, kita dapat melihat skor efisiensinya melalui Nelson Complexity Index (NCI). Indeks ini digunakan untuk mengukur tingkat kompleksitas dan efisiensi sebuah kilang minyak—semakin tinggi skornya, maka semakin canggih dan efisien kilang tersebut.
Sayangnya, kilang-kilang di Indonesia rata-rata memiliki skor NCI di bawah 6, sedangkan standar global untuk kilang modern berada di atas angka 10.
Sebagai perbandingan, Malaysia hanya memiliki empat kilang utama, yaitu Kilang Melaka, Kilang Kertih, Kilang Port Dickson, dan Kilang Pengerang (PIC – Pengerang Integrated Complex). Dari seluruh kilang tersebut, PIC adalah yang paling canggih dan memainkan peran besar dalam meningkatkan efisiensi produksi BBM di Malaysia.
Mengapa kilang ini begitu canggih? Karena dibangun langsung oleh Petronas dengan investasi sebesar 27 miliar USD dan mulai beroperasi pada tahun 2009. Dengan teknologi terbaru, kilang ini memiliki tingkat konversi yang tinggi dan efisiensi energi yang lebih baik, sehingga biaya produksinya menjadi lebih rendah. Jika biaya produksi rendah, maka harga jual pun bisa ditekan. Intinya, efisiensi memainkan peran penting dalam struktur harga BBM.
Efisiensi ini juga menjelaskan mengapa kualitas bensin di Malaysia bisa lebih bersih—karena diproses dengan teknologi kilang yang lebih modern. Namun, bukan hanya efisiensi yang membuat harga BBM di Indonesia lebih mahal. Ada satu faktor besar lainnya yang sangat sulit dikendalikan: populasi.
