Media sosial secara tidak langsung menciptakan standar hidup yang tidak realistis. Karena banyak orang sudah terpengaruh oleh ilusi tersebut—termasuk lingkungan sekitar kita—secara alami kita pun terdorong untuk menjadi seperti mereka agar merasa lebih diterima secara sosial.
Menariknya, ketika seseorang sudah terlanjur terjebak keinginan untuk terlihat kaya, mereka akan masuk ke dalam jebakan berikutnya, yaitu efek Diderot.
Apakah kamu pernah mendengar tentang teori ini?
Efek Diderot berasal dari seorang filsuf Prancis bernama Denis Diderot, yang menyatakan bahwa satu barang mewah bisa memicu efek domino untuk membeli barang mewah lainnya. Misalnya, ketika seseorang membeli iPhone 16 Pro Max, tapi kendaraan sehari-harinya adalah motor tua seperti Mio karburator, akan muncul pikiran seperti:
Baca Juga:Penyebab Harga BBM Malaysia Lebih Murah dari IndonesiaCara Dapat Uang Lewat Giveaway Rans Entertainment, Penipuan Atau Terbukti Membayar?
“Masa pakai iPhone 16 Pro Max tapi naik Mio karbu? Nanti dikira iPhone gue HDC.”
Akhirnya, muncul keinginan untuk membeli motor baru—minimal Vario. Setelah itu, ia merasa perlu meng-upgrade pakaian agar sesuai dengan HP dan motornya. Lalu ia berpikir:
“Masa pakai Vario dan iPhone 16 Pro Max tapi bajunya cuma kaos singlet? Masa masih pakai Converse KW? Minimal harus Jordan asli, dong.”
Dan siklus ini tidak pernah selesai. Ia akan terus membeli barang demi menyelaraskan citra dirinya dengan barang mewah pertama yang ia beli.
Inilah yang menyebabkan orang terjebak dalam gaya hidup boros, padahal sebenarnya mereka tidak sanggup menjalani gaya hidup tersebut. Bahkan, banyak yang akhirnya nekat menggunakan layanan paylater dan pinjol hanya demi mempertahankan gengsi.
Mengapa mereka bisa sampai seberani itu?
Hal ini berkaitan dengan apa yang disebut sebagai present bias—sebuah kecenderungan manusia untuk lebih memprioritaskan kepuasan instan daripada mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Mereka lebih memilih hidup mewah sekarang meskipun harus menderita di masa depan. Dalam benaknya, yang penting saat ini terlihat sukses. Misalnya:
“Gak apa-apa nanti susah, yang penting pas bukber gue bisa pakai iPhone 16 Pro Max.”
Baca Juga:Link DANA Kaget Spesial Akhir Juni Penuh Kejutan, Ambil Saldo Gratis Ini!5 Restoran Vegetarian di Bandung Pilihan Terbaik untuk Diet
Selain itu, masyarakat kita kerap mengaitkan kondisi miskin dengan kegagalan. Stigma inilah yang membuat banyak orang tidak mau dicap sebagai “orang miskin”. Maka, tanpa berpikir panjang, mereka rela bekerja keras hanya untuk membeli barang-barang yang melambangkan status sosial tinggi—padahal mereka sendiri belum benar-benar mapan secara finansial.
