Ia menjelaskan bahwa jagung yang ditanam awalnya adalah jagung manis, namun setelah melakukan survei bersama dinas dan akademisi, pihaknya memutuskan mengganti ke jagung pakan untuk menjawab kebutuhan pakan ternak di wilayah tersebut.
“Kami temukan bahwa pakan ternak lokal masih kurang. Contohnya, ada pengusaha ayam petelur di sini yang memiliki 200 ribu ekor ayam. Untuk suplai pakan saja masih bergantung ke Jawa Tengah atau Jawa Timur,” jelasnya.
Tinton menyebut pengelolaan jagung pakan memiliki tantangan tersendiri, terutama pada tahap pasca panen.
Baca Juga:Nilai Tukar Rupiah Diperkirakan Stabil, BI Yakini Inflasi Bisa TerkendaliKemenperin Dorong Pemerataan Kawasan Industri di Seluruh Indonesia
“Kalau nanamnya gampang, tapi pengolahannya yang sulit. Mulai dari pemetikan sampai pengeringan, kadar airnya harus 15 persen agar bisa dijual,” katanya.
Ia menambahkan, para petani yang terlibat dalam pengelolaan lahan telah menerima upah kerja dan 10 persen dari hasil panen, sementara sisanya digunakan untuk mendukung program beasiswa mahasiswa Unpad.
“Kita berbagi hasil dengan fakultas juga, untuk mendukung beasiswa adik-adik mahasiswa. Selain itu, kita juga bantu penyediaan sumber air dan irigasi,” ujar Tinton.
