Wisata Religi Pabrik Al-Qur’an Syamil, Belajar Adab di Balik Lembar

Pekerja menyelesaikan pembuatan Al Quran di percetakan Syaamil Quran di Jalan Babakan Sari, Kota Bandung, Senin (7/4). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Pekerja menyelesaikan pembuatan Al Quran di percetakan Syaamil Quran di Jalan Babakan Sari, Kota Bandung, Senin (7/4). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Tak banyak yang tahu, proses mencetak mushaf Al-Qur’an ternyata jauh berbeda dibanding buku biasa. Di balik setiap lembarannya, ada adab dan kehati-hatian yang dijaga. Inilah yang coba dikenalkan Syamil Group lewat wisata religi di pabrik mushaf mereka, yang berlokasi di Bandung.

Wisata ini sudah berjalan sejak 2013. Tapi cikal bakalnya muncul setahun sebelumnya, ketika pemilik Syamil tengah melakukan perjalanan ke Madinah. Di sana, ia melihat dari jauh percetakan Al-Qur’an terbesar di dunia.

Momen itu membekas dan memunculkan gagasan: pengalaman serupa bisa dinikmati masyarakat Indonesia.

Baca Juga:Hadiri Launching BisKita Trans Pakuan, Ketua DPRD Kota Bogor Dukung Pengoperasian Kembali Transportasi UmumPasca Lebaran, Harga Kebutuhan Pokok di Bandung Barat Berangsur Turun!

Ada dua nilai utama yang ingin ditanamkan. Pertama, soal adab dalam mencetak mushaf. Para pekerja harus dalam kondisi suci, menjaga mushaf agar tidak sejajar kaki, dan menangani mushaf rusak (reject) dengan penuh hormat.

Dia menyebutkan, mushaf rusak tidak dijual kiloan, tapi dimusnahkan atau didaur ulang dengan prosedur khusus. Bahkan plat cetak pun dibersihkan dulu sebelum dibuang.

“Kami ingin tunjukkan bahwa mushaf itu bukan sekadar produk cetak. Ada nilai dan adab yang harus dijaga,” jelas Dzikri.

0 Komentar