Tugu Adipura Rusak, Pemkot Dinilai Abai pada Lambang Prestasi

Tugu adipura di persimpangan jalan Nasional dekat Pos Jembar rusak, Selasa (8/4/2025). Bertahun-tahun rusak tak kunjung diperbaiki oleh pemerintah setempat. (Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
Tugu adipura di persimpangan jalan Nasional dekat Pos Jembar rusak, Selasa (8/4/2025). Bertahun-tahun rusak tak kunjung diperbaiki oleh pemerintah setempat. (Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Ironis. Tugu Adipura yang seharusnya menjadi kebanggaan Kota Banjar setelah tujuh kali menyabet penghargaan nasional di bidang kebersihan dan lingkungan, justru tampak memprihatinkan. Bagian bawah tugu di pertigaan Jalan Nasional Kota Banjar kini rusak, dengan besi penyangga ornamen yang keropos termakan usia. Padahal, lokasinya strategis dan menjadi simbol pencapaian daerah, namun kondisi ini dibiarkan tanpa perbaikan.

Fakta ini memantik kritik tajam terhadap komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Banjar dalam menjaga aset publik. Sejak pertama kali meraih Adipura pada 2013 hingga terakhir di 2023, tugu tersebut seolah hanya dijadikan ‘pajangan’ pencitraan, tanpa dibarengi perawatan berkelanjutan. Warga pun mempertanyakan keseriusan pemkot dalam memaknai penghargaan bergengsi ini.

“Bagaimana mungkin kota yang tujuh kali dinilai berhasil menjaga lingkungan justru mengabaikan lambang prestisenya sendiri? Ini menunjukkan inkonsistensi antara klaim dan aksi,” ujar Andi Maulana, warga Kota Banjar, Selasa (8/4/2025).

Baca Juga:Kasus Pemalakan Bus Pariwisata di Pameungpeuk, Ini Update TerbarunyaPesan Dedi Mulyadi ke Lucky Hakim, Bangun Wisata di Daerah hingga Tuntaskan Fenomena Sapu Koin

Kerusakan tugu bukan hanya soal estetika, tetapi juga mencerminkan lemahnya pengawasan pemkot terhadap infrastruktur publik. Padahal, sebagai titik utama yang dilintasi kendaraan lintas provinsi setiap hari, tugu ini seharusnya menjadi contoh kesungguhan Banjar dalam menjaga kebersihan dan tata kota. Sayangnya, besi berkarat dan struktur yang rapuh justru mengirim pesan kontradiktif, prestasi Adipura mungkin hanya sekadar angka, bukan cerminan budaya kerja nyata.

Pertanyaan kritis juga mengemuka soal alokasi anggaran. Selama satu dekade meraih Adipura, apakah pemkot lalai menyisihkan dana untuk pemeliharaan simbol ini? Atau justru terlalu fokus pada ‘pemburu-an piala’ tanpa memedulikan keberlanjutan?

“Jika tugu saja tak dirawat, bagaimana dengan aset lain yang tak terlihat? Ini indikasi bahwa penghargaan mungkin hanya untuk kepuasan birokrasi, bukan untuk masyarakat,” tambah Andi.

Pemkot Banjar hingga kini belum memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab keterlambatan perbaikan. Sikap diam ini semakin menguatkan anggapan bahwa pemerintah abai terhadap tanggung jawabnya. Jika dibiarkan, kerusakan tugu bukan hanya akan menghilangkan kebanggaan warga, tetapi juga mempermalukan reputasi Banjar sebagai kota ‘juara’ Adipura.

Masyarakat berharap pemkot segera bertindak. Prestasi tujuh kali Adipura harus dibuktikan dengan kerja nyata, bukan sekadar tugu pajangan yang lapuk di persimpangan jalan. (CEP)

0 Komentar