Di sudut Kota Bandung, tepatnya di Gang Kupat, aroma janur segar menyapa siapa saja yang melintas. Gang ini bukan sekadar jalan sempit di antara rumah-rumah padat, melainkan pusat produksi ketupat yang menjadi denyut nadi tradisi Lebaran.
Muhamad Nizar, Jabar Ekspres.
Seorang perajin ketupat, Tata, ialah salah satu perajin yang telah bergelut secara tahun menahun menjalani profesi ini. Dengan cekatan, jemarinya merangkai janur menjadi wadah ketupat yang sempurna.

Dirinya menambahkan, tak hanya dari Bandung, permintaan juga datang dari daerah lain seperti Jakarta dan Tangerang. Permintaan itu muncul akibat ketersediaan ketupat di daerah pemesan tengah kosong.
Baca Juga:BNI Sukseskan Posko Mudik Bareng BUMN di Pelabuhan Tanjung Perak, Berikan Takjil hingga Pengobatan GratisPuncak Arus Mudik di Nagreg Diprediksi Terjadi Hari Ini, Volume Kendaraan Capai 138 Ribu hingga Sore
Dia mengakui, saking melonjaknya permintaan di Gang Ketupat, beberapa waktu lalu dirinya pernah mengalami lonjakan pesanan. Pesanan mencapai 300 kupat dengan harga Rp1 juta karena tingginya kebutuhan pembeli.
Tahun ini, dirinya sudah menjual ketupat mulai dari harga Rp10.000 per ikat, menyesuaikan dengan permintaan pasar. Perkiraan pun pada lebaran kali ini, menurutnya, amat banyak.

Iroh memiliki waktu yang panjang seharian untuk merangkai janur-janur itu. “Tahun ini perkiraan bisa mencapai 25 ribu kupat, mulai dari pagi sampai sore,” pungkasnya.
