Oleh : Sri Mulyati Rahayu (Mahasiswa Program Studi Doktor Fakultas Keperawatan UNPAD, NPM: 220130240505)
JABAR EKSPRES – Diabetes Mellitus atau kencing manis adalah penyakit kronis yang menuntut disiplin dalam menjaga kadar gula darah tetap stabil.
Namun, banyak penderita diabetes tidak menyadari bahwa selain pola makan dan olahraga, stres juga memiliki dampak besar terhadap kondisi mereka.
Baca Juga:Klaim Saldo DANA Gratis hingga Rp150.000 dari Amplop Lebaran 2025Menteri Nusron Bertemu Gubernur dan Kepala Daerah se-NTT: Perkuat Kolaborasi Kebijakan Pertanahan dan Tata Ruang
Dalam kehidupan modern yang penuh tekanan, stres sering kali diabaikan, padahal efeknya dapat memperburuk diabetes dan meningkatkan risiko komplikasi serius.
Seseorang yang mengalami stres, tubuh merespons dengan melepaskan hormon kortisol dan adrenalin.
Hormon-hormon ini memicu pelepasan glukosa ke dalam darah sebagai mekanisme pertahanan tubuh.
Pada orang tanpa diabetes, insulin akan bekerja mengatur lonjakan gula darah ini.
Namun, bagi penderita diabetes, terutama mereka yang mengalami resistensi insulin, lonjakan gula darah akibat stres bisa menjadi tidak terkendali.
Stres yang berbahaya bagi penderita diabetes bukan hanya stres emosional, tetapi juga stres fisik, seperti kurang tidur, kelelahan, atau infeksi.
Semua kondisi ini dapat memicu peningkatan kadar gula darah yang signifikan.
Baca Juga:Video 30 Menit Gadis Cantik Calla Pramuka Viral di Medsos, Bikin Heboh Netizen25 Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 2025 Singkat Tapi Berkesan
Penelitian menunjukkan bahwa penderita diabetes yang mengalami stres kronis cenderung memiliki kadar HbA1c lebih tinggi, yang merupakan indikator utama kontrol diabetes dalam jangka panjang.
Stres selain memengaruhi kadar gula darah juga berdampak pada kebiasaan hidup penderita diabetes.
Banyak orang yang mengalami stres cenderung mencari kenyamanan dalam makanan manis atau tinggi karbohidrat, melewatkan olahraga, atau mengalami gangguan tidur.
Pola hidup yang tidak sehat ini semakin memperburuk kondisi diabetes dan meningkatkan risiko komplikasi seperti neuropati, nefropati, dan retinopati diabetik.
Stres juga bisa mempercepat komplikasi kardiovaskular, yang merupakan penyebab utama kematian pada penderita diabetes.
Kortisol yang tinggi dalam tubuh dapat meningkatkan tekanan darah, kadar kolesterol jahat (LDL), serta memicu peradangan dalam pembuluh darah.
Kombinasi ini dapat mempercepat perkembangan aterosklerosis atau penyumbatan arteri, yang berisiko menyebabkan serangan jantung atau stroke.
Penderita diabetes perlu menerapkan strategi efektif dalam mengelola stres.
Teknik relaksasi, seperti meditasi, pernapasan dalam, atau yoga, telah terbukti membantu menurunkan kadar kortisol dalam tubuh.
