“Kami harapkan pemerintah bukan hanya memberikan solusi ketika tanggap (darurat bencana), sebatas dengan membawa bantuan sembako atau mie instan saja,” jelasnya.
“Kami bukan artinya menolak bantuan, tapi hanya sembako terus yang diberikan tidak menjadikan permasalahan ini tuntas, harus ada solusi konkret, tindakan nyata,” tambah Dekki.
Menurutnya, dengan solusi yang kongkret dan adanya tindakan nyata terkait permasalahan Sungai Cimande yang kerap meluap, diharapkan pemerintah bukan hanya melakukan normalisasi lewat pengerukan di hilir saja.
Baca Juga:Dari Paciwit-Ciwit Lutung hingga Enggrang, SDN Cibabat Mandiri 2 Ajarkan Permainan Tradisional pada SiswaDewan Dorong Evaluasi Kerja Sama Pengelolan Aset BOT, Ada Hotel Pullman hingga Lapangan Golf
Akan tetapi, ujar Dekki, diharapkan normalisasi dapat dilakukan benar-benar tuntas alias tak hanya di hilir tapi juga dari hulunya.
“Karena hulunya lah yang menjadi penyebab utama, yang harus dibereskan. Saya harapkan juga ada pejabat yang bisa mengambil kebijakan dan keputusan dalam mengatasi hal ini, agar tuntas dan tidak terulang kembali,” ujarnya.
Dekki menilai, selama ini pemerintah melakukan normalisasi sungai, sebagai upaya menuntaskan permasalahan banjir selalu saat musim penghujan.
Oleh karenanya, langkah yang dilakukan terkesan kurang maksimal, sebab penanganan dilakukan ketika musibah terjadi saja.
“Masukan juga, alangkah lebih baiknya normalisasi dilakukan atau dikerjakan di musim kemarau biar efektif, karena kalau di musim hujan harusnya fokus pada penghijauan, biar nanti pas kemarau tidak terjadi kekurangan air,” imbuh Dekki.
“Istilahnya, sebagai kajian menurut saya, mengatasi permasalahan banjir harusnya di musim kemarau. Begitu juga sebaliknya, mengatasi permasalahan kemarau (sulit air bersih) dilakukannya saat di musim hujan (penghijauan), jangan terbalik,” pungkasnya. (Bas)
