Sehari-hari, sekitar 70 santri belajar di pesantren ini. Saat Ramadhan, jumlahnya bertambah hingga 50-60 orang per hari, termasuk peserta pesantren kilat. Dengan tiga pengajar utama serta bantuan santri senior, mereka membimbing santri dalam memahami huruf hijaiyah isyarat hingga menghafal ayat-ayat Al-Qur’an.
Dalam suasana pesantren, seorang ustaz berdiri di depan layar proyektor, menjelaskan hukum tajwid dengan bahasa isyarat. Sementara itu, dua santri putri berhijab rapi berdiri di dekat poster berisi huruf hijaiyah isyarat, membaca ayat suci dengan gerakan tangan yang anggun.
Maya berharap, pesantren ini tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga wadah yang membentuk santri tuna rungu agar mandiri dan percaya diri.
Baca Juga:Pemkot Bandung Beberkan Upaya Kendalikan Harga Kepokmas saat RamadanMenag Nasaruddin Umar Prediksi Lebaran Idul Fitri Jatuh pada 31 Maret, Ini Penjelasan Lengkapnya
“Saya ingin mereka tidak merasa sebagai disabilitas, tapi bisa sejajar dengan yang lain. Bahkan, bisa mengajak orang-orang di luar disabilitas untuk belajar bersama mereka,” ujarnya penuh harap.
Lebih dari itu, ia ingin melihat lahirnya para hafiz Quran dari komunitas tuna rungu. “Saya berharap anak-anak di sini bisa menjadi hafiz, berjiwa sosial, dan hidup sejahtera,” kata Maya.
Di tengah keterbatasan, Rumah Quran Isyaroh membuktikan bahwa akses terhadap ilmu agama tidak boleh terhenti hanya karena perbedaan fisik. Dengan semangat inklusivitas, pesantren ini menjadi pelita bagi mereka yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan, meskipun dalam keheningan.
Bagi para santri di sini, membaca Al-Qur’an bukan sekadar ritual, tetapi jalan untuk menemukan cahaya di dalam gelap—cahaya yang bersinar melalui gerakan tangan mereka.
