“Saya mengikuti aksi ini sebagai bentuk perjuangan terhadap perempuan yang seringkali diremehkan,” tegas Fani.
Beberapa peserta memegang spanduk dengan tulisan tegas, seperti “Femisida Bukan Sekadar Pembunuhan, Tapi Kejahatan Patriarkal yang Harus Diakui dan Ditindak Tegas!”
Di tengah pekatnya malam, suara peserta bergema lantang. Mereka menyanyikan lagu-lagu perjuangan perempuan, membacakan puisi, dan menyuarakan kisah-kisah ketidakadilan yang masih terjadi.
Baca Juga:Tembok Rumah Jebol Sebabkan Banjir Bandang di Kampung Cireundeu, Dua Warga Luka-lukaGedebage Kembali Dilanda Banjir, Pengendara: Udah Bukan Jalan, Tapi Kolam Renang
Sebelum aksi berakhir, obor diangkat tinggi-tinggi, menandakan tekad mereka untuk terus melawan ketidakadilan. Malam itu, api perlawanan tetap menyala—bukan sekadar simbol, tapi juga harapan bagi masa depan yang lebih setara.
