JABAR EKSPRES – Badai pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia belum juga reda, belum lama ini PT Sritex Group yang menyatakan pailit dan harus terpaksa menutup pabriknya.
Menteri Ketenegakerjaan (Menaker) Yassierli membantah isu tersebut, menurutnya tidak semua kabar soal gelombang PHK adalah benar. Ia mencotohkan PT Mayora Indah Tbk yang sebelumnya dikabarkan telah melakukan PHK massal terhadap para pekerjanya, ternyata tidak benar.
Menaker juga mengatakan pentingnya data valid mengenai jumlah PHK yang terjadi di Indonesia.
Baca Juga:Dikritik DPRD KBB, Adithia: Perubahan Wilayah Diperlukan untuk Atasi Masalah Cekungan BandungPolres Banjar Perkuat Silaturahmi dengan Bagikan Takjil Gratis di Titik Rawan Lalu Lintas
Berdasarkan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita pada Selasa (4/3), industri manufaktur domestik terus alami pertumbuhan sekaligus menyerap tenaga kerja baru lebih banyak dibanding angka PHK.
Menurut data dari Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) pada tahun 2024, jumlah tenaga kerja baru yang diserap industri manufaktur yang mulai berproduksi tahun 2024 mencapai 1.082.998 tenaga kerja baru.
“Pesan positif ini harus disampaikan. Walaupun kami tidak menutup mata kalau ada perusahaan/industri yang berada di fase kontraksi, tapi ada juga yang tumbuh,” kata Menaker.
Ia mengatakan, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi adanya PHK, mulai dari kondisi ekonomi makro, daya saing perusahaan, hingga tata kelola internal perusahaan.
Dalam hal ini, Menaker cukup optimis bahwa penyerapan tenaga kerja di Indonesia tahun ini akan menunjukan pertumbuhan.
