“Selama 20 tahun, kami baru mencetak 20 ribu set. Itu belum sebanding dengan kebutuhan,” kata Ahmad.
Kendala lain adalah rendahnya tingkat literasi Braille di kalangan tunanetra Muslim. Menurut Ahmad, hanya 10 persen dari mereka yang benar-benar bisa membaca Al-Qur’an Braille.
“Apalagi setelah pandemi, banyak dari mereka makin terpuruk. Masih banyak yang buta huruf Braille, dan pelatihan pun terbatas,” lanjutnya.
Baca Juga:Tingkatkan Pengawasan Alat Ukur SPBU, Pemkot sebut Masyarakat bisa Lapor Kecurangan Lewat Scan BarcodeDukung Evaluasi Proyek PT Jaswita di Puncak Bogor, Komisi IV: Bila Perlu Tutup!
Di tengah berbagai tantangan, bulan Ramadan selalu menjadi momen sibuk di percetakan Wyata Guna. Permintaan mushaf meningkat, dan para pekerja semakin giat memproduksi Al-Qur’an Braille untuk didistribusikan ke berbagai daerah.
Pemandangan seperti yang terlihat di percetakan hari ini menjadi bukti bahwa di tengah keterbatasan, semangat untuk menyebarkan ilmu tetap menyala. Seorang pekerja tampak fokus mengoperasikan mesin cetak tua, menekan tombol-tombol untuk mencetak ayat-ayat suci ke dalam lembaran kertas tebal.
Sesekali Ahmad mengatur tumpukan mushaf yang telah selesai dicetak, siap dikirim ke berbagai daerah. Rak-rak penuh dengan jilid-jilid Braille menandakan betapa besar kebutuhan dan perjuangan yang terus berlangsung.
Terlebih pada momen Ramadan, selalu muncul permintaan yang lebih banyak. “Walaupun sibuk, kami senang bisa membantu,” ujar Ahmad. “Ini bukan hanya pekerjaan, tapi ibadah.”
