Cerita Tukang Sol di Cimahi yang Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Modernisasi

Ade, Salah Satu Tukang Sol di Jalan Sriwijaya Kota Cimahi (Mong)
Ade, Salah Satu Tukang Sol di Jalan Sriwijaya Kota Cimahi (Mong)
0 Komentar

“Harga semuanya naik. Mau enggak mau, saya berharap ada yang nge-sol sepatu terus,” ujarnya lirih, lalu tersenyum tipis.

Di kawasan Taman Segitiga Pasar Antri, Cimahi, ada sekitar sepuluh jongko tukang sol sepatu. Namun, persaingan bukanlah tantangan utama. Menurut Kang Dede, maraknya sepatu murah yang mudah rusak tapi langsung dibuang membuat usahanya semakin tergerus.

“Dulu mah orang kalau sepatu rusak pasti diperbaiki, sekarang kalau rusak ya langsung dibuang. Sepatu karet murah udah banyak,” katanya.

Baca Juga:Peresmian Bank Emas Pertama di Indonesia, Presiden Berharap Jadi Dampak Positif Bagi PerekonomianDana Desa Kota Banjar Tahun 2025 Capai Rp18,55 Miliar, Nasib Anggaran Desa Masih Mengambang

Untuk bahan baku seperti karet sol dan benang jahit, ia masih mengandalkan pasokan dari Cibaduyut.

“Beli di Cibaduyut, kadang tiga bulan sekali. Untungnya awet, jadi enggak cepat habis,” katanya.

Ia berharap, di tengah kesulitan ini, harga kebutuhan pokok bisa lebih terjangkau, agar ia dan rekan-rekannya sesama tukang sol bisa tetap bertahan.

Mereka tak menyerah meski usaha mereka kian terhimpit. Mereka adalah saksi bisu perubahan zaman, yang tetap bertahan meski waktu terus berjalan.

0 Komentar