Jumlah itu berbanding jauh dengan total sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti sebanyak 17 ritase atau rata-rata 90-100 ton, sementara sampah yang dihasilkan warga Bandung Barat sebanyak 150 ton sehari.
“Jauh perbandingannya, jadi sisanya ditampung kesini. Ada juga sisanya yang dikelola atau pakai mesin pencacah, kita ada 4 mesin dengan maksimal 1 mesin 10 ton. Tapi itu masih kurang, karena itu kita coba ajukan penambahan ritase,” tambahnya.
Dampak dari pembatasan itu tidak hanya dirasakan oleh pemerintah, tapi masyarakat yang berada di sekitar lokasi UPT kebersihan itupun ikut merasakan dari bau tak sedap yang ditimbulkan dari sampah yang menyerupai bukit tersebut.
Baca Juga:Tatap Pemilu 2029, PPP Bangkit Perkuat Konsolidasi Tingkatkan Transformasi Mesin PartaiSemrawut Simpang Susun Cileunyi Bawah Tol Cisumdawu, Selain Marak Terminal Bayangan Kini Menjamur PKL Liar
Pasalnya, lokasi pembuangan sampah sementara di UPT kebersihan tersebut berdekatan dengan bangunan sekolah menengah pertama (SMP) Krida Utama.
Salah satu orang tua siswa, Farida (38) menyebut khawatir bau menyengat dari timbunan sampah itu mengancam kesehatan siswa-siswi SMP Krida Utama.
“Suka terasa baunya sampai sini (sekolah), apalagi kalau beres hujan makin tercium. Khawatir ke kesehatan anak-anak,” katanya.
Meski mengetahui pembuangan sampah ke TPA Sarimukti dibatasi, namun Farida berharap Pemkab Bandung Barat bisa mengatasi persoalan tersebut. Apalagi jarak SMP Krida Utama dan UPT kebersihan tak kurang dari 500 meter.
“Semoga ada jalan keluarnya, apalagi ini menyangkut kesehatan,” tandasnya. (Wit)
