Meski Turun di Tingkat Petani, Harga Cabai Rawit di Pasar Tradisional Masih Pedas

Ilustrasi cabai rawit merah. Di tingkat petani harga cabai turun signifikan. Dok Jabar Ekspres
Ilustrasi cabai rawit merah. Di tingkat petani harga cabai turun signifikan. Dok Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Harga cabai rawit yang sempat menembus Rp80.000 perkilogram di tingkat petani, Kabupaten Bandung Barat, kini mulai berangsur turun.

Salah seorang petani di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Andi Tohaman mengatakan, harga cabai rawit merah kini turun menjadi Rp40.000 perkilogram.

“Naik turun, sekarang turun lagi jadi segitu,” ungkap Tohaman kepada wartawan, Senin (20/1/2025).

Baca Juga:Gagal Pangkas Jarak, Barcelona Tertinggal di Puncak Klasemen La LigaSudah Beroperasi 14 Tahun, Polresta Bandung Bongkar Praktek Tambang Emas Ilegal di Kutawaringin, Kerugian Capai Rp1 Triliun

Tohaman menduga, penurunan harga cabai rawit merah disebabkan melimpahnya hasil panen sehingga pasokan ke pasar mulai kembali normal.

Dengan harga yang tinggi tak serta merta menguntungkan petani, sebab ia juga harus mengeluarkan biaya membeli pestisida untuk mencegah penyakit tanaman dan ongkos pekerja.

“Beli obat biayanya Rp250 ribu untuk sekali penyemprotan, belum dipotong biaya buruh untuk satu orang Rp80.000,” bebernya.

“Sekarang selada dibiarin di kebun walaupun hasilnya bagus-bagus. Karena kalau tetap dipanen ya tetap gak ada untung, kan kita juga harus hitung biaya ongkos dan lainnya,” katanya.

Andi nerharap, harga hasil pertanian stabil agar tak memberatkan petani dan masyarakat. Selain itu juga, ia meminta bantuan alat pertanian dan subsidi agar bisa terus produksi.

“Kalau dengan harga sekarang kan istilahnya untung enggak ya rugi juga enggak. Kalau harga-harga produksi murah, otomatis gak akan ada yang dirugikan,” tandasnya.

0 Komentar