Di Balik Tumpukan Sampah, Ada Kehidupan yang Terbengkalai

Dok. Tumpukan sampah di kawasan komersil Pasar Caringin Bandung. Selasa (17/12). Foto. Nizar Jabar Ekspres.
Dok. Tumpukan sampah di kawasan komersil Pasar Caringin Bandung. Selasa (17/12). Foto. Nizar Jabar Ekspres.
0 Komentar

Sampah yang tak kunjung diangkut, membusuk di depan mata, mengubah wajah pasar menjadi tempat yang tak manusiawi. Bukan hanya Asep yang merasakan dampak buruk ini. Riski Iman (25), seorang pengendara motor yang melewati pasar Caringin setiap hari, mengeluhkan bau yang semakin menyengat.

“Bau busuknya itu, meskipun pakai masker atau tutup helm, tetap aja nyengat. Agak mengganggu, sih,” keluhnya. “Jalan utama sih nggak terganggu, tapi bau itu benar-benar mengganggu.”

Sampah yang menumpuk ini bukan sekadar masalah estetika. Ia membawa dampak buruk bagi kesehatan dan kenyamanan warga sekitar. Tak hanya pedagang, pengendara motor, dan pembeli pasar yang terjebak dalam penderitaan ini, namun mereka yang tinggal di sekitar pasar pun tak luput dari dampaknya.

Baca Juga:Upaya Hukum Pemkot Soal Pasar CaringinPengelola Pasar Induk Caringin Urai Masalah Sampah Sejak Dulu

Asep yang tinggal tak jauh dari pasar, merasakan bagaimana bau sampah menyebar hingga ke rumahnya di Babakan Ciparay. Bahkan, bau busuk itu seakan menyusup ke dalam ruang keluarganya, merasuk ke dalam kehidupan mereka yang kini berbau tidak sedap.

Suryana (30), seorang pedagang di kios buah-buahan di pasar itu, turut mengeluhkan pengelolaan sampah yang semakin kacau. “Sampahnya tetap menumpuk, pengangkutannya lambat, bahkan ada yang bilang TPS baru ini malah memperburuk keadaan. Alih-alih mengurangi sampah, sampah malah semakin banyak dan bau,” ujarnya. “Saya harap ada solusi yang konkret, agar pasar ini bisa bersih dan nyaman lagi.”

Kondisi pengelolaan sampah di Pasar Caringin memang tampak kacau. Walaupun ada TPS baru yang dibangun, masalah tak kunjung teratasi.

Bahkan, menurut Suryana, pengelolaan yang dilakukan oleh pemerintah lebih banyak berbicara tentang pembakaran sampah daripada pemrosesan yang benar-benar mengurangi jumlah sampah. “Sekarang, sampah dibakar di sini, tapi hasilnya, bau dan asapnya malah semakin menyebar,” keluhnya.

Suryana menyarankan agar ada kerja sama yang lebih baik antara pengelola pasar, pemerintah, dan para pihak terkait, termasuk perguruan tinggi untuk mengolah sampah menjadi pupuk organik yang lebih bermanfaat.

Namun, harapannya itu masih jauh dari kenyataan. “Tak ada koordinasi, tak ada upaya nyata untuk memperbaiki keadaan ini,” katanya dengan nada yang mulai kehilangan harapan.

0 Komentar