Haul Gusdur di Cileunyi, Diisi dengan Diskusi Kerukunan Antar Umat Beragama

Yayasan Yapisa (Ponpes Syamsul Ma’arif) menjadi saksi penyelenggaraan kegiatan Haul Gusdur, Refleksi Akhir Tahun 2024, sekaligus dirangkai dengan Diskusi Kerukunan Antar Umat Beragama, Senin, 23 Desember 2024.
Yayasan Yapisa (Ponpes Syamsul Ma’arif) menjadi saksi penyelenggaraan kegiatan Haul Gusdur, Refleksi Akhir Tahun 2024, sekaligus dirangkai dengan Diskusi Kerukunan Antar Umat Beragama, Senin, 23 Desember 2024.
0 Komentar

Selain itu, Kiki menyebutkan, meski dipenjara, para napiter semakin matang dan masih bisa membuat saluran komunikasi dan jaringan keluar.

“Ada kelemahan dalam sistem penjara napiter di mana  pemahaman ISIS, JAT dan JAD ternyata keliru. Karena menimbulkan teror dan kekerasan,” ungkapnya.

“Selain itu, kesalahan fatal pemahaman radikal semakin sesat karena tidak membuka pemahaman dari tafsir ulama yang lain,” sambungnya.

Baca Juga:Bursa Filateli, Pamerkan Barang-Barang KunoPilkada Jabar, NasDem Menang di 16 Kabupaten/Kota

Lebih jauh Kiki menyebutkan, radikalisme adalah paham yang menginginkan perubahan drastis dengan kekerasan. Sementara terorisme kata dia, merupakan kegiatan menciptakan teror dengan kekerasan.

Mantan pelaku terror ini juga menegaskan, menyembuhkan orang yang terpapar radikalisme sangat sulit. Karena berkaitan dengan keyakinan ideologi, psikologi, kebencian, kondisi ekonomi dan politik.

Kiki pun menyebutkan ciri-ciri orang terpapar radikal. Di antaranya intoleransi, fanatik buta, eksklusif, dan revolusioner.

Sedangkan ciri-ciri orang terpapar terorisme, lanjut Kiki, ingin mengubah ideologi Pancasila, bermaksud menggulingkan pemerintahan, melakukan persiapan (idad), mempersiapkan logistik dan rekruitmen.

“Sementara organisasi radikal di Indonesia, Jamaah Islamiyah (JI) (sudah bubar), ISIS-JAD, Negara Islam Indonesia (NII), Mujahid Indonesia Timur (MIT),” ungkapnya lagi.

Sementara itu, Perwakilan Ansor Jabar Wawan Gunawan menjelaskan, tren radikalisme yang menyasar ruang publik dan menekankan pentingnya menjaga Pancasila sebagai warisan ulama dan umat Islam.

“Ciri-ciri orang terpapar radikal itu mengkritik tatanan yang ada, memiliki alternatif gagasan, merasa gagasannya yang paling benar, merubah tatanan yang ada dengan tatanan baru yang dianggap benar. Tren gerakan terorisme saat ini adalah masuk ke ruang-ruang publik dan bidang,” kata Wawan.

Baca Juga:Gramedia Perluas Literasi Masa Depan di BandungPuncak Kebahagiaan pada Peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional

Menurut Wawan, rangkaian radikalisme adalah intoleransi, diskriminasi, melakukan tindak kekerasan. Sementara teori kekerasan yaitu orang bisa melakukan kekerasan karena frustasi, memiliki sandaran bagi tindak kekerasan (dalil), kekerasan sudah menjadi rutinitas, dehumanisasi orang di luar golongannya.

“Indonesia merupakan lahan yang subur bagi terorisme (berdasarkan hasil riset dan analisis histori). Terorisme tidak hanya terjadi di agama Islam, tetapi juga terjadi di agama lain. Riset di Jakarta, jumlah guru dan siswa yang anti Pancasila semakin meningkat. Aksi Terorisme saat ini tidak dilakukan secara individu, tetapi sudah membawa keluarga. Pancasila adalah produk ulama dan ummat Islam. Membela agama dan negara hukumnya wajib,” kata Wawan menegaskan.

0 Komentar