JABAR EKSPRES – Cuaca ekstrem yang terjadi sejak awal tahun 2024, menyebabkan beberapa kerusakan di sekitar Wilayah Kota Bandung
Kasi Darurat Logistik Dinas Kebakaran Penanggulangan Bencana (Diskar PB) Kota Bandung, Roby menuturkan, bencana hidrometereologi atau bencana yang berhubungan dengan iklim ini, paling besar didominasi bencana longsor hingga banjir di sejumlah titik.
“Untuk longsor itu ada enam titik, banjir juga enam titik. (Sementara) pergeseran tanah atau tanah amblas ada tiga titik, pohon tumbang dua titik, kirmir roboh ada tiga titik,” ungkap Roby kepada wartawan, Selasa (23/4).
Baca Juga:Peringati Hari Bumi, Gerakan Muda Peduli Alam: Jaga, Rawat dan Lindungi!Penertiban Jukir Liar Butuh Keberanian Pemerintah Serta Peran Masyarakat
“Angin puting beliung, ada satu titik terjadi. Ini data dari Januari sampai April, per hari ini,” sambungnya.
Dirinya mengungkapkan bahwa bencana longsor acapkali melanda daerah Bandung Utara. Seperti daerah Kecamatan Coblong, Cidadap, Cibeunying Kaler, lalu Mandala Jati.
Sementara bencana banjir seringkali melanda wilayah sekitar Gedebage, Bandung Wetan, Braga, hingga Cibeunying Kaler. Penyebabnya ditenggarai akibat debit curah hujan yang tinggi.
“Menyebabkan aliran sungai juga naik dan kalau untuk longsor itu kejenuhan tanah juga meningkat. Maka untuk longsor, masyarakat harus bisa mengantisipasi,” jelasnya.
Angka tersebut, kata Roby, disinyalir lebih tinggi apabila dibandingkan dengan tahun 2023. Dapat terlihat penyebabnya, yakni berkenaan dengan intensitas curah hujan.
“Hujan 2024 itu lebih tinggi, terus lebih panjang juga. Mudah-mudahan di akhir tahun tahun juga tidak terlalu tinggi, karena Kota Bandung (rawan) banyak bencana karena hidrometereologi,” pungkasnya.
