Istighfar Terbaik, Di Setiap Desahan Napas

ISTIGHFAAR PANGHADENA : MA’A KULLI NAFAS

ISTIGHFAAR adalah suatu amal yang harus serius diperhatikan oleh setiap diri yang mengaku Mu’min, karena apalah artinya semua fasilitas dunia yang dinikmati ini kalau tanpa ampunan Alloh SWT dari segala dosa.

ISTIGHFAAR tidak bisa dilakukan sembarangan,  tetapi harus memiliki makna dan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.

Baca juga : 12 Macam Bacaan Istigfar  dan Waktu Terbaik Membacanya

ISTIGHFAAR bagi seorang Mu’min, seharusnya adalah Ikhtiar yang Sungguh-sungguh dengan dilandasi Tauhid yang bersih, Iman yang kuat dan GHiroh yang tinggi dengan Format Amal, yang sesuai dengan Arahan dari Rosuululloh Muhammad SAW.

Seperti apakah ISTIGHFAAR yang diarahkan oleh Rosuululloh Muhammad SAW..???

Rosuululloh Muhammad SAW mengarahkan dengan mencontohkan, beliau berISTIGHFAAR sekurang-kurangnya 70 kali setiap hari.

Hal ini beliau ungkapkan dalam sabda-sabdanya,

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Alloh. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhori)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Alloh karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)

مَا أَصْبَحْتُ غَدَاةً قَطٌّ إِلاَّ اِسْتَغْفَرْتُ اللهَ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Tidaklah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari) kecuali aku beristigfar pada Allah sebanyak 100 kali.” (HR. An Nasa’i. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani di Silsilah Ash Shohihah no. 1600)

70 hingga 100 kali beliau baca setiap hari, tentunya tidak pantas dan masih belum cukup untuk kita mengingat seperti apa perbandingan diri kita dengan Rosuululloh Muhammad SAW.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan,

“Inilah kekhususan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam yang seorang pun tidak ada yang menyamainya. Tidak ada dalam satu hadits shohih pun yang menceritakan tentang balasan amalan kepada selain beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa dosanya yang telah lalu dan akan datang akan diampuni. Inilah yang menunjukkan kemuliaan beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala perkara ketaatan, kebaikan dan keistiqomahan yang tidak didapati oleh manusia selain beliau, baik dari orang yang terdahulu maupun orang yang belakangan. Beliaulah manusia yang paling sempurna secara mutlak dan beliaulah pemimpin (sayyid) seluruh manusia di dunia dan akhirat.”

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan