“Jika melihat kasus yang sekarang terjadi adanya peningkatan kasus dan korban jiwa, artinya pencegahan belum maksimal dan belum ada tindakan yang representatif terhadap kasus DBD ini,” bebernya.
“Oleh karena itu saya meminta semua pihak terutama Dinkes untuk segera melakukan tindakan-tindakan yang memang seharusnya dilakukan, tekan penyebaran DBD supaya penyebarannya tidak terus meningkat,” imbuh Devie.
Ia juga menyebut, bahwa masyarakat harus menyadari jika penyebaran DBD bisa berasal dari lingkungan sekitar, misal dari genangan-genangan air yang menjadi pusat timbulnya nyamuk DBD.
Baca Juga:Warga Kampung Cijuhung Terisolir Akses, Dishub KBB Akan Siapkan Transportasi Jalur AirJokowi Bahas Program Makan Siang dengan Para Menteri, Pengamat: Dugaan Keberpihakan
“Kasus DBD sekarang yang sedang meningkat kebanyakan menyasar anak-anak, artinya orang tua juga harus waspada dan jangan lengah untuk memperhatikan lingkungannya,” imbuhnya.
Meskipun fogging intens dilakukan, sambung dia, tetapi itu bukan satu-satunya solusi untuk pencegahan DBD sebab harus dibarengi juga dengan kesadaran masyarakat untuk selalu menerapkan 3M Plus.
“3M Plus ini kan Menguras tempat penampungan air, Menutup tempat-tempat penampungan air dan Mendaur ulang berbagai barang yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biak nyamuk Aedes Aegypti. Jadi harus dilakukan juga oleh masyarakat sebagai upaya pencegahan di lingkungan sekitarnya,” papar Devie.
Diketahui, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mulai menggencarkan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di wilayah-wilayah kelurahan.
Dinkes Kota Bogor mencatat, sejauh ini sedikitnya sudah ada 845 jiwa yang terjangkit DBD di Kota Bogor dengan total empat kasus kematian. Pada Januari 2024 terdapat 389 kasus DBD dengan satu kasus kematian, sedangkan pada Februari terdapat 456 kasus DBD dengan tiga kasus kematian. (YUD)
