JABAR EKSPRES – Pasar kendaraan listrik (EV) diperkirakan akan tumbuh di tahun-tahun mendatang, tetapi adopsi mobil ramah lingkungan di Indonesia masih tertinggal dari pasar global.
Lambatnya adopsi kendaraan listrik disebabkan oleh beberapa alasan, seperti kekhawatiran akan ketersediaan stasiun pengisian daya dan biaya perawatan jangka panjang yang mahal.
Hal ini menunjukkan perlunya infrastruktur pengisian daya yang merata untuk mengatasi kekhawatiran konsumen.
Baca Juga:Pasca Putusan MK, Waketum Partai Gerindra Ungkap Belum Putuskan Cawapres untuk Dampingi PrabowoOperasi Mantap Brata, Polresta Cirebon Siagakan 1.268 Personil
“Oleh karena itu, para pemimpin industri dan pembuat kebijakan sedang mempersiapkan masa depan di mana kendaraan ramah lingkungan dapat memainkan peran penting di pasar,” kata Hendra Lie, kepala otomotif di PwC Indonesia dikutip dari Antara, Selasa (17/10).
Menurut PwC, terlepas dari daya tarik kendaraan listrik yang terus meningkat, kekhawatiran konsumen dapat secara signifikan mempengaruhi tingkat adopsi kendaraan listrik.
PwC Indonesia telah merilis Indonesia Electric Vehicle Consumer Survey 2023 untuk memberikan wawasan unik kepada para pembaca mengenai kesiapan konsumen Indonesia terhadap mobil dan motor listrik, serta memberikan gambaran mengenai potensi industri ini di masa depan.
PwC juga menekankan bahwa kesadaran konsumen Indonesia akan kendaraan ramah lingkungan juga semakin meningkat, sehingga permintaan akan kendaraan listrik diperkirakan akan meningkat dalam waktu dekat.
Sebagian besar responden percaya bahwa kendaraan listrik adalah kendaraan masa depan. Mesin yang lebih tenang 85%, teknologi canggih 76%, dan aspek menarik yang belum pernah ada sebelumnya 82% adalah tiga karakteristik utama kendaraan listrik yang tidak dapat ditiru oleh kendaraan berbahan bakar fosil.
