Meskipun sedikit yang diketahui tentang masa muda Deif, ia lahir dengan nama Mohammed Diab Ibrahim al-Masri di kamp pengungsi Khan Younis pada 1960-an. Nama aslinya tetap menjadi misteri, dan sedikit informasi yang tersedia tentang kehidupan pribadinya.
Deif aktif dalam Hamas sejak awal terbentuknya pada akhir 1980-an, terlibat dalam jalur militer dan bekerja bersama Yahya Ayyash, perakit bom terkenal saat itu. Meskipun pernah terlihat sebagai patriot yang membuat kartun untuk menghibur sesama tahanan, reputasi baik Deif perlahan memudar ketika Hamas terlibat dalam upaya bom bunuh diri untuk menggagalkan Perjanjian Oslo.
Israel menyalahkan Deif atas kematian puluhan orang dalam serangan bunuh diri, dan kiprah militer Deif semakin meningkat sebagai komandan tertinggi Izz ad-Din al-Qassam Brigades, satuan perang milik Hamas. Bagi Deif, Perjanjian Oslo dianggap sebagai pengkhianatan dan menjadi dasar untuk upayanya menggantikan Israel dengan negara Palestina.
Baca Juga:Penguasa de facto Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MbS), Mengukuhkan Dukungan terhadap Rakyat PalestinaKemlu RI: Warga Negara Indonesia Diminta Pulang dari Zona Konflik Israel-Palestina
Profesor politik di Universitas Al-Azhar di Gaza, Mkhaimar Abusada, menyatakan bahwa Deif dianggap sebagai sosok yang sakral dan sangat dihormati di dalam Hamas dan oleh orang Palestina. “Operasi terbesarnya melawan Israel akan membuatnya menjadi sosok ‘layaknya dewa bagi para pemuda,’” tambahnya.
Dengan serangan terbarunya pada kuartal akhir 2023, Deif kembali mencuri perhatian sebagai arsitek di balik serangan Hamas yang paling mematikan terhadap Israel.
