JABAR EKSPRES – Kemarau panjang sedang terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, salah satunya adalah Kota Depok. Menurut Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Rahmat Maros, kemarau di Kota Depok terjadi sejak beberapa bulan lalu, hal tersebut karena terjadi El Nino level moderate, atau terjadi pengurangan pasokan uap air di wilayah Indonesia, namun masih terdapat suplai uap air karena SST perairan Indonesia masih hangat.
Saat El Nino, aliran massa uap air dari Indonesia menuju ke Samudera Pasifik. Intensitas El Nino dibagi menjadi tiga kategori yaitu lemah dengan kisaran indeks 0,5-1, Moderate dengan kisaran indeks 1-2, dan El Nino Kuat dengan kisaran indeks 2-3.
“Kamarau kali ini disebabkan El Nino level moderate,” kata Rahmat Maros, Senin (9/10).
Baca Juga:Depok Krisis Air, Walkot: Hujan Buatan Bukan Kewenangan PemkotMaulid Nabi, Wali Kota Depok dan AA Gym Sebut Pemilu Jangan Sampai Pecah Belah Bangsa
Namun demikian menurutnya berdasarkan prakiraan dari BMKG kemarau akan berakhir hingga November 2023.
“Insyaallah November akan turun hujan,” katanya.
Sementara itu, kemarau kali ini menyebabkan kekeringan di Kali Ciliwung. Bahkan sampai saat ini ketinggian air hanya 55 sentimeter di Pos Pantau Ciliwung Depok.
Menurut Petugas pos pantau air di Depok, Arman kondisi saat ini masih normal. Namun memang diakui ada penyusutan karena kemarau panjang.
“Masih normal ketinggian 55 sentimeter. Ini masih normal ketinggian 55 sentimeter,” katanya.
