Mereka berpendapat bahwa beberapa wanita memilih untuk mengenakan abaya, atau jilbab, sebagai cara untuk mengekspresikan identitas budaya mereka, bukan karena keyakinan agama mereka.
Langkah ini juga dapat menimbulkan tantangan praktis bagi otoritas sekolah, yang harus menentukan kapan sebuah pakaian menjadi simbol agama, dan bukannya pilihan mode pribadi.
Langkah ini juga kemungkinan akan ditentang di pengadilan oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia, yang mengecamnya sebagai pelanggaran kebebasan beragama.
Baca Juga:Finlandia Menjadi Negara Paling Bahagia di Dunia Selama 6 Tahun Beruntun, Ternyata Begini Tipsnya10 Negara Paling Indah di Dunia, Dataran Surga yang Sangat Menakjubkan!
Larangan abaya adalah yang terbaru dari serangkaian tindakan kontroversial yang menargetkan pakaian wanita Muslim di Prancis.
Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa politisi konservatif telah menyerukan untuk memperluas larangan simbol-simbol agama ke universitas dan bahkan orang tua yang menemani anak-anak dalam perjalanan sekolah.
Pemimpin partai sayap kanan, Marine Le Pen, juga berkampanye dalam pemilihan presiden 2020 untuk melarang cadar dari semua ruang publik.
