Hari Hepatitis Sedunia Jatuh pada 28 Juli, Akademisi Minta Langkah Pengendalian Melalui UU Kesehatan

Ilustrasi. Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama meminta pengendalian penyakit hepatitis melalui UU Kesehatan. ANTARA/HO/RSUD Kota Bogor.
Ilustrasi. Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama meminta pengendalian penyakit hepatitis melalui UU Kesehatan. ANTARA/HO/RSUD Kota Bogor.
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Undang Undang (UU) Kesehatan menjadi sorotan sejumlah pihak termasuk akademisi atau Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama. Ia juga menilai soal pentingnya pengendalian penyakit hepatitis di Indonesia.

Sehingga, akademisi Tjandra Yoga Aditama meminta agar penanganan penyakit hepatitis bisa dilakukan melalui implementasi UU Kesehatan. Menurutnya hal tersebut perlu disegerakan.

Untuk pencegahan penularan dari ibu dengan HBsAg (+) ke bayi, kata Tjandra, disediakan Hepatitis B Immune Globulin (HBlg), vaksinasi Hepatitis B 1 sampai 3, dan mulai tahun 2023, diberikan pengobatan pencegahan dengan obat Tenofovir.

Baca Juga:Ratusan Orang Gelar Aksi Penolakan pada Pemkot di Depan Kebun Binatang Bandung, Begini Reaksi Ketua Yayasan TMTDalami Kasus Polisi Tembak Polisi, Polres Bogor dan Polda Jabar Kumpulkan Barang Bukti hingga Analisa CCTV

Kemudian, Tjandra Yoga Aditama yang juga mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu mengemukakan pemerintah perlu meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hepatitis.

Selain itu, kata Tjandra, akses terhadap layanan kesehatan komprehensif mulai dari pencegahan, skrining, testing, pengobatan, dan pemantauan pengobatan juga masih perlu ditingkatkan.

“Saat ini perlu disediakan porsi yang cukup dalam transformasi kesehatan untuk pengendalian hepatitis,” katanya.

Ia juga mengatakan hepatitis disebabkan oleh virus dan dapat dibedakan menjadi hepatitis A yang menular melalui makanan atau minuman terkontaminasi dan biasanya bersifat ringan.

Hepatitis B dan C menular melalui darah, cairan tubuh atau seks tanpa pengaman dan dapat menyebabkan penyakit hati kronik. Vaksinasi tersedia untuk mencegah hepatitis A dan B, kata Tjandra.

0 Komentar