JABAR EKSPRES – Status Swedia sebagai anggota baru NATO nampaknya akan segera terwujud setelah peristiwa pembakaran Al-Qur’an, dengan Erdogan menjadi lebih lunak.
Awalnya, Presiden Turki, Tayyip Erdogan, sangat keras menentang pengajuan Swedia untuk bergabung dengan NATO setelah insiden pembakaran Al-Qur’an.
Namun, setelah melakukan pembicaraan di KTT antara anggota NATO di Finlandia, Erdogan memberikan persetujuan terhadap keanggotaan Swedia.
Baca Juga:3 Tempat Wisata yang Bisa Kamu Temukan ketika Melintas di Sekitaran Tol Cisumdawu, Ayo Mampir Dulu!Kupat Tahu Gempol, Kuliner Bandung Legendaris Semenjak Tempo Doloe
Jens Stoltenberg, Sekretaris Jenderal NATO, mengumumkan bahwa Presiden Erdogan telah setuju agar Swedia bergabung dengan NATO.
Erdogan bertahan dalam penolakannya terhadap keanggotaan Swedia dalam waktu yang cukup lama, dan tidak ada yang berharap adanya kompromi dari Ankara.
Turki menuduh Swedia tidak berbuat banyak terhadap orang-orang yang dianggap sebagai teroris oleh Turki, terutama anggota Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang merupakan organisasi terlarang menurut Turki, Uni Eropa, dan Amerika Serikat.
Namun, Erdogan dan Kristersson tampak santai menjelang pertemuan, bahkan pemimpin Swedia itu bercanda tentang memarkir pesawatnya di sebelah pesawat Turki yang lebih besar di bandara Vilnius.
Dibutuhkan waktu dua minggu bagi parlemen Turki untuk meratifikasi keanggotaan Finlandia.
Setelah kepala staf Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orban, menyatakan bahwa Budapest tidak akan lagi menghalangi ratifikasi keanggotaan NATO Swedia.
