Kualitas Udara Jakarta Meningkat Saat Idul Adha

JABAR EKSPRES – Kualitas udara di Jakarta mengalami perbaikan selama Hari Raya Idul Adha 1444 Hijriah, berdasarkan data dari IQAir. Jakarta berada di peringkat ke-26 dalam daftar kota dengan kualitas udara dan polusi terburuk di dunia.

Juru Bicara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Yogi Ikhwan, menyatakan bahwa kualitas udara di Ibu Kota relatif membaik selama libur Idul Adha dan akhir pekan panjang. Menurunnya peringkat tersebut disebabkan oleh berkurangnya mobilitas kendaraan pribadi di Jakarta.

Yogi mengatakan bahwa Jakarta dapat mempertahankan peringkat yang baik jika beralih ke penggunaan transportasi publik. Saat ini, kualitas udara di Jakarta mencapai AQI US 127, dengan tingkat konsentrasi PM2.5 sebesar 46,2 µg/m³.

Sebelumnya, Ibu Kota Indonesia pernah menduduki posisi ketiga sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Bahkan, pada hari Senin, Jakarta menjadi kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

Saat ini, peringkat kualitas udara ibu kota berada pada indikator oranye, yang mengindikasikan kualitas udara yang tidak sehat bagi kelompok sensitif. Indikator merah menunjukkan kualitas udara yang lebih buruk dibandingkan dengan kota lain di dunia, sementara ungu menunjukkan kondisi yang sangat tidak sehat, dan hitam berbahaya. Hijau menandakan kualitas udara yang baik, sedangkan kuning menandakan kualitas udara sedang.

Menurut IQAir, skor indeks kualitas udara antara 0-50 menunjukkan kualitas udara baik, rentang 51-100 menunjukkan kualitas udara sedang, dan rentang 101-150 menunjukkan kualitas udara tidak sehat bagi kelompok sensitif. Rentang 151-200 menunjukkan kualitas udara yang tidak sehat, rentang 201-300 menunjukkan kualitas udara sangat tidak sehat, dan lebih dari 301 menunjukkan kualitas udara yang berbahaya.

Pemerintah Provinsi DKI terus berupaya mengurangi sumber polusi di ibu kota guna mengatasi buruknya kualitas udara. Beberapa kebijakan yang dilakukan antara lain meningkatkan kegiatan uji emisi, mengawasi emisi dari sektor industri, dan berkoordinasi untuk menerapkan kebijakan ganjil-genap yang lebih ketat di Jakarta.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan