JABAR EKSPRES – Luas kota Cimahi sangat terbatas, tidak ada perkebunan yang mampu menopang kebutuhan sayur mayur untuk masyarakatnya. Pun dengan lahan permukimannya yang juga sempit, sementara jumlah penduduknya begitu padat. Tiga kecamatan mencapai 600 ribu jiwa.
Kepala Dinas Perdagangan Koperasi UMKM dan Perindustrian Kota Cimahi Dadan Darmawan mengatakan, untuk mencukupi kebutuhan sayur mayur dan bumbu, warga harus rajin dan berinisiatif untuk memanfaatkan pekarangan rumah.
Menurut dia, jika semua masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah, pot, dan polybag ditanamai tanaman produktif maka bisa menekan harga sejumlah bahan pokok di pasar yang harganya relatif mahal.
Baca Juga:Warga Kawasan Tambang di Padalarang Alami Gatal-gatal hingga Gangguan PernapasanJelang Idul Adha, DKPP Masih Temukan Kasus LSD pada Hewan Ternak Sapi di Jabar
“Kalau masyarakat kompak memanfaatkan hal ini, maka bisa menstabilkan harga pasar karena secara otomatis apabila permintaan rendah maka harga relatif stabil. Sebaliknya jika permintaan tinggi maka harga otomatis naik,” katanya.
Ia menjelaskan, untuk satu pohon cabai atau tomat yang ditanam di polybag contohnya, bisa memenuhi kebutuhan satu rumah. Bahkan kata dia, tanaman cabai sendiri usianya relatif panjang.
“Hal ini bisa dimanfaatkan agar masyarakat tidak ketergantungan kebutuhan ke pasar. Kecuali untuk bahan pokok lainnya yang tidak bisa ditanam di pekarangan rumah,” katanya.
Seperti telur, saat ini lanjut Dadan, harganya masih tinggi di kisaran Rp31 ribu per kilogram. Sementara untuk bawang merah dan bawang putih, cabai rawit, sudah mulai stabil harganya.
“Telur masih mahal, saya coba belanja langsung ke pasar, harganya masih di Rp31 ribu per kg. Harganya penurunannya sangat lambat terjadi, padahal sudah berangsur lama kenaikan harga telur ayam ini,” ucapnya. (MG)
