Dia pun sadar, sejak pindah dan menetap di Kampung Cijagra, maka semua keluarga harus mengambil risiko dan harus bisa menyesuaikan dengan kondisi yang harus bisa hidup berdampingan dengan banjir.
”Ya kalau disini sih kaya isi ulang aja. Jadi kalau gak ada hujan air surut. Kalau hujan air datang lagi dan pasti banjir. Begitu terus menerus,” terangnya.
Dia pun bercerita bagaimana harus melaksanakan ibadah puasa di Bulan Ramadan dan merayakan Idul Fitri dengan kondisi rumah yang kebanjiran.
Baca Juga:Isi Kekosongan, Bupati Bandung Lantik Tiga Direktur Perumda Tirta RaharjaBeri Semangat Personel, Dirut PLN Spontan Kunjungi Pos Siaga Kelistrikan di Lokasi KTT ASEAN
”Bulan puasa juga kita babanjiran, seminggu pas bulan puasa. Terus dua hari lebaran langsung datang lagi itu banjir,” ucapnya, sambil secara tidak sengaja memperlihatkan giginya yang masih tersusun rapi tanpa ada gigi yang hilang.
Elianti mengatakan, jika banjir yang kerap terjadi adalah akibat dari luapan air Sungai Citarum. Selain itu, jika hujan besar aliran air dari jalan raya yang posisinya lebih tinggi dari Kampung Cijagra juga secara otomatis semuanya mengalir ke kampung.
”Kalau sudah banjir, saya rasanya seperti ikan yang hidup di kolam,” candanya.
Meski tetap pasrah menjalani hidup yang harus berdampingan dengan banjir, namun Elianti tetap berharap kepada pemerintah, khususnya Pemkab Bandung untuk secepatnya menyelesaikan persoalan yang sudah terjadi sejak puluhan tahun.
”Katanya pemerintah sudah bikin kolam besar untuk nampung air (kolam retensi) tapi tetap seperti tidak berfungsi. Makanya saya minta pemerintah tolong kawasan ini agar segera lepas dari banjir,” katanya menutup perbinjangan bersama Jabar Ekspres. (ziz)
