Penulisan terkait pembayaran Paylater ini sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an yang menyuruh ummat Islam untuk mencatat setiap perutangan yang ada.
…….. يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَا كْتُبُوْهُ
“Hai orang-orang yang beriman! Jika kamu mengadakan utang piutang secara tidak tunai untuk waktu yang ditentukan maka hendaklah kamu catat.” (QS.al-Baqarah: 282)
Ayat diatas menerangkan bahwa setiap perhutangan harus dicatat untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan nantinya. Dengan adanya pencatatan tersebut, maka setiap perjanjian menjadi jelas.
Baca Juga:Peringati HJG Ke-210, 210 Domba Guling Gratis Khas Garut Menanti!Fadillah Arbi Siap Taklukkan Junior GP 2023 Bersama Astra Honda Racing Team
Selain itu, untuk dasar perjanjian Paylater telah dijelaskan pada Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 282, Paylater merupakan sebuah pembayaran dengan metode utang terlebih dahulu. Dalam Islam, setiap yang berhutang harus mencatat perhutangannya dan melakukan akad sehingga kedua belah pihak Ridho.
Jadi, Paylater dalam Islam adalah boleh (selagi masih sesuai dengan syariat). Wallahu a’lam. (*)
