Mustika Sunda, Generasi Cerah dalam Pelestarian Kebudayaan Sunda

Ketika sedang asik menyeruput secangkir kopi, di kejauhan terdengar riuh alunan musik kesenian sunda, yang membuat rasa ingin tahu kemudian menghampiri.

 

SADAM HUSEN SOLEH RAMDHANI, Bandung

SETELAH ditelisik, beberapa orang sedang menari dengan atribut lengkap Kesenian Reak. Yang diiringi oleh lantunan terompet dan tabuhan alat musik dogdog, mengartikan pertunjukan sedang digelar.

Pemuda berbaju kuning bernama Satrio, yang berasal dari Ujungberung, Kota Bandung. Merupakan Kordinator dan Penanggung Jawab Grup Mustika Sunda. Dirinya bercerita, pertunjukan ini berangkat dari kecintaan dan rasa suka pemuda, terhadap Kesenian Reak.

“Awalnya itu kita lagi kumpul, semuanya suka kesenian reak, terus bikinlah alat musik dogdog. Dari situ kita latihan-latihan dan akhirnya menggelar pertunjukan. Jadi awal mulanya berangkat dari situ,” ujar Satrio di sela-sela istirahat pertunjukan, Sabtu (18/3).

Jauh dari pada itu, Kesenian Reak merupakan budaya turun temurun yang persebarannya banyak berada di Bandung Timur, khususnya Ujungberung.

Satrio menjelaskan, rasa suka dirinya terhadap kebudayaan ini, secara tidak langsung memberikan respon positif kepada anak-anak. Yang kemudian mereka turut serta, dalam melestarikan kesenian dan kebudayaan sunda.

“Anak muda atau anak-anak kalo lihat ini tuh udah pasti suka. Terus juga kita ga merasa ngajarin, tiba-tiba udah bisa memainkan alat musik. Mungkin secara ga langsung mereka belajar hingga akhirnya bisa, terus kita wadahi,” jelasnya.

Berangkat dari ketidaksengajaan, malah menghasilkan pundi-pundi rupiah. Dalam sekali tampil, Mustika Sunda bisa menghasilkan hingga Rp 5 juta. Kini Mustika Sunda memiliki 20 anggota aktif, yang didominasi oleh anak muda. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan