“Delapan motif tersebut tertuang dalam Perbup nomor 13 Tahun 2009. Bahan bakunya dari katun mori. Semakin tinggi tingkat kesulitan dan penggunaan warnanya, semakin mahal harganya,” kata Yayu.
Dikatakan Yayu, dalam proses pewarnaannya, Batik Kasumedangan tidak menggunakan bahan kimia, tetapi sudah menggunakan bahan pewarna alami yang ramah lingkungan dengan dua kali pewarnaan.
“Batik tradisional yang ecoprint, dengan pewarna alami bukan dari bahan kimia. Kita betul betul tradisional,” ujarnya.
Baca Juga:Indonesia Targetkan Jadi Negara Maju, Mendag: ASEAN Harus KompakEpaper Jabar Ekspres Edisi Sabtu, 14 Mei 2022
Terakhir Yayu mengharapkan Pemda Sumedang bisa terus mendorong pemasaran produk serta memberikan bantuan modal kepada pelaku UMKM supaya meningkatkan kesejahteraannya.
“Harapannya ke depan Pemda Sumedang terus mendukung UMKM dengan memberikan bantuan modal dan pemasaranya. Alhamdulillah, untuk saat ini pandemi sudah mereda, event sudah mulai lagi,” pungkasnya. (*)
