“(Jadi) kami (tunanetra) selama ini enggak pernah pakai. Kami lebih pilih berjalan di pinggir jalan (di bawah trotoar),” ungkap Imannuel yang kesehariannya ini berkeliling jalan kaki menjajakan kerupuk ikan.
Terlebih, lanjut Imannuel, penyandang disabilitas tunanetra ialah pengguna akses trotoar yang paling butuh perhatian. Tak hanya mengharapkan permukaan jalan yang rata. Para tunanetra pun membutuhkan blok pemandu atau guiding block di sepanjang jalan.
“Sebenarnya bukan hanya trotoar saja. Akses jalan juga. Kan, karena tunanetra harus hati-hati banget. Trotoar harus ada aksesnya. Seperti ada garis-garisnya (guiding block) buat membantu tunanetra,” ujarnya.
Baca Juga:Cara Mengemudi Mobil Manual dengan Mudah, Cocok untuk PemulaPertama di Asia Tenggara, Progres KCJB Sudah Capai 82 persen
Selain direpotkan dengan carut-marutnya trotoar yang mengancam keselamatan. Nestapa pun kian bertambah. Tatkala mereka harus berhadapan dengan mobil yang terparkir di bahu jalan.
“Apalagi banyak yang memarkir mobil di samping trotoar. Bingung juga. (Kadang) saya nabrak itu (mobil),” pungkasnya. (zar)
