RSUD AL-Ihsan Kini Tak Lagi Kumuh
Kesan umum yang kerap timbul tentang rumah sakit umum daerah (RSUD), antara lain, adalah pelayanannya lambat dan kondisinya yang kumuh.
Kesan itulah yang berusaha dipatahkan oleh manajemen RSUD Al-Ihsan yang telah melakukan perubahan besar.
RSUD Al-Ihsan adalah salah satu RSUD milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat. RSUD tersebut berada di Jalan Kiastramanggala, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Baca Juga:Ferry Kurnia Mantan Ketua KPU Jabar Duduki Posisi Wakil Ketua di Partai PerindoBRI Berikan Pendapatan Ke Kas Negara Sebesar Rp 14 Triliun untuk Pembangunan
RSUD ini pada mulanya milik swasta, kemudian diambil alih oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan tujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara merata bagi warga Jabar.
Beberapa tahun belakangan ini manajemen melakukan pembenahan di sana sini. Kini Ruang Rawat Kelas III saja serasa Kelas I dan berpendingin udara (AC) pula.
Kebersihannya pun sangat diperhatikan. Artinya, RSUD ini tidak lagi kumuh. Bahkan, Ruang Tunggu pun bersofa indah.
Tempat pendaftaran poliklinik sudah komputerisasi. Jika kita akan berpindah lantai, selain ada lift, ada pula eskalator. Semua itu berfungsi dengan baik dan bersih.
RSUD Al-Ihsan sesungguhnya sudah didukung peralatan medis yang relatif canggih. Sebut saja misalnya, empat pelayanan unggulannya, yakni Cardiac Center, Cancer Center, Perimaternal Center, dan Stroke Center.
Keempatnya sudah layak menjadi kebanggaan masyarakat Jabar karena siap memberi pelayanan maksimal.
Kkelenggakapan peralatan medis dan fasilitas itu tidak lepas dari dukungan anggaran yang dialokasikan untuk bidang kesehatan.
Baca Juga:Kejati Jabar Tetapkan Satu Tersangka Pegawai BPK yang Kena OTT di BekasiAirlangga Hartarto Berkat Pembebasan PPnBM, Industri Automotif Kembali Menggeliat
Terlepas dari semua itu, RSUD Al-Ihsan ingin go internasional, tetapi mereka masih membutuhkan dukungan.
Salah satunya adalah bangunan 8 lantai yang belum juga tuntas masalah hukumnya. Padahal, jika gedung tersebut dimanfaatkan secara optimal, diperkirakan dapat menampung lagi setidaknya 500 tempat tidur untuk pasien rawat inap.
Jika ini terjadi, terwujudlah sebuah RSUD yang kapasitasnya hanya sedikit saja di bawah Rumah Sakit Hasan Sadikin.
Jika itu terwujud, berarti masyarakat Jabar mempunyai dua rumah sakit istimewa. Dengan demikian, angka harapan hidupnya akan kian meningkat.
Semoga ini menjadi bukti bahwa negara hadir untuk memberikan pelayan prima kepada masyarakat di bidang pelayanan kesehatan.
