Masyarakat Tak Perlu Khawatir, Vaksin yang Beredar di Indonesia Dijamin Aman

BANDUNG – Wakil Koordinator Sub Divisi Pos Vaksinasi Faskes Jabar dr. Dewi Ambarwati meminta masyarakat agar mau disuntik vaksin Covid-19 jenis apapun. Sebab, vaksin yang beredar di Indonesia telah melalui uji klinis dari otoritas kesehatan sehingga dijamin keamanannya.

Menurutnya vaksin Covid-19 merupakan vaksin yang berasal dari bakteri atau virus yang dimatikan dan atau dilemahkan, sehingga efek yang timbul dari vaksin pun akan berbeda-beda.

“Jenis vaksin Sinovac atau Sinopharm merupakan jenis vaksin yang berasal dari virus atau bakteri yang dimatikan. Maka respon antibodi terhadap tubuh itu berbeda, karena begitu virus ini masuk kedalam tubuh kita dia adalah spesimen dari virus itu yang memang dia sudah tidak hidup, dia mati. Masuk ke dalam tubuh kita sebagai benda asing,” terangnya di Kota Bandung, Selasa (24/8).

“Maka ada terjadi reaksi di dalam tubuh untuk mengenal benda asing ini sebagai suatu lawan yang di mana di dalam tubuh kita akan terbentuk senjata atau imunitas yang kalau nanti masuk seperti benda asing ini ke dalam tubuh kita sudah punya senjatanya. Responnya tidak terlalu besar, kenapa? Karena yang masuk adalah bagian dari virus yang mati, jadi reaksi demam jarang terjadi,” sambung Dewi.

Sedangkan, untuk jenis vaksin yang dibuat untuk melemahkan virus atau bakteri seperti jenis Pzifer dan Moderna, tubuh akan bereaksi untuk mengidentifikasi spesimen yang masuk tersebut.

“Berbeda dengan vaksin Moderna atau Pfizer, karena vaksin ini adalah bagian virus yang dilemahkan, artinya virus ini masih hidup, masuk kedalam tubuh kita tapi dia lemah artinya dia tidak begitu responsif seperti virus yang masuk betul-betul, maka reaksi antigen, antibodi kita akan lumayan. Begitu masuk ke dalam tubuh, kalau kita demam berarti tubuh kita ada penyerangan dari daya tahan tubuh terhadap virus ini,” tuturnya.

Dia kemudian mencontohkan pengalamannya ketika mendapat booster vaksin jenis Moderna. Seusai menjalani vaksinasi, respon tubuhnya terhadap vaksin membuat dirinya terserang demam. Namun hal itu tidak berlangsung serius.

“Seharian saya tidak bisa ngapa-ngapain, dengan tangan sebelah kanan itu sakit sekali, begitu hari ketiga Alhamdullilah sehat, lalu setelah itu seminggu kemudian saya periksa antibodi, hasilnya tinggi, di atas 500,” ungkapnya.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan