Satwa Primata di Indonesia Paling Beragam di Dunia

Kampus IPB
Kampus IPB
0 Komentar

Saat ini, kelompok tarsius masuk dalam Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) dan dilindungi melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI.

Dari studi molekuler, Prof Wita berhasil mengungkap hibridisasi alami yang terjadi antar dua spesies Tarsius yang mempunyai habitat berbatasan, yakni Tarsius lariang dan Tarsius dentatus.

Berdasarkan analisis berbagai marka genetik, warna rambut, rambut ekor, dan vokalisasi, ditemukan spesies baru yang diberi nama Tarsius wallacei sp. nov. Penamaan ini untuk menghormati Alfred Russel Wallace, naturalis Inggris dan salah satu penemu seleksi alam.

Baca Juga:Beri Bantuan, Bupati Sumedang Sambangi Anak Yatim Piatu Korban Covid-19Tips untuk UMKM Agar Bertahan Saat PPKM

“Identifikasi spesies Tarsius juga dilakukan di penangkaran Pusat Studi Satwa Primata (PSSP), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University.

Identifikasi dilakukan secara molekuler menggunakan sampel non-invasif, berupa feses, untuk memastikan nama spesies Tarsius tersebut. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahan dalam memasangkan individu di kegiatan reproduksi.

“Analisis DNA mitokondria menunjukkan di penangkaran ada dua spesies Tarsius, yaitu Tarsius spectrumgurskyae dan dua Cephalopachus bancanus,” paparnya.

Selain Tarsius, Prof Wita juga meneliti aspek genetik pada monyet ekor panjang yang ditemukan di Papua. Papua tidak termasuk ke dalam distribusi geografik alami monyet ekor panjang di Indonesia.

Karena itu, monyet ekor panjang di Papua, secara definisi, dapat disebut sebagai spesies eksotik atau asing. Berdasarkan rekonstruksi pohon filogenetik DNA mitokondria, sampel Papua mengelompok dengan sampel Kalimantan bersama-sama dengan haplotipe dari pulau Jawa, Timor, Mauritius, dan Filipina.

Dari hasil risetnya ini, Prof Wita menyimpulkan bahwa komponen kunci dalam konservasi genetik adalah pengembangan metode molekuler non-invasif untuk asesmen dan memonitor populasi satwa primata liar. Sumber DNA non-invasif yang paling umum digunakan yaitu rambut dan feses.

(Antaranews)

0 Komentar