Inggris Buat Kebijakan Bebaskan Masyarakatnya Lepas Masker, Kenapa?

Masyarakat negara Inggris saat ini sedang bersuka cita. Sebab, baru-baru ini pemerintah setempat telah mengumumkan bahwa seluruh masyarakat di Inggris tidak diwajibkan memakai masker. Bahkan kebijakan kelonggaran tempat hiburan malam dibuka seperti sebelum ada korona.

Masyarakat inggris juga boleh melaksanakan aktivitas dengan bebas. Dan tidak ada larangan untuk berkerumun.

Kebijakaan ini dilakukan karena, 54 persen dari total populasi Inggris telah divaksinasi lengkap. Dan lebih dari 69 persen telah menerima satu dosis vaksin.

Dengan melonggarkan kebijakan ini, pemerintah Inggris sepertinya tengah menerapkan kekebalan kelompok (Herd Immunity).

Herd Immunity adalah kekebalan yang diperoleh dari kelompok masyarakat yang sudah diberikan vaksin secara lengkap.

Sehingga memberikan perlindungan tidak langsung atau kekebalan kelompok bagi mereka yang tidak kebal terhadap penyakit menular tersebut.

Misalnya, jika 80% populasi kebal terhadap suatu virus, empat dari setiap lima orang yang bertemu seseorang dengan penyakit tersebut tidak akan sakit dan tidak akan menyebarkan virus lebih jauh.

Dengan begitu, penyebaran penyakit dapat dikendalikan. Bergantung pada seberapa menular suatu infeksi, biasanya 70% hingga 90% populasi membutuhkan kekebalan untuk mencapai kekebalan kelompok.

Kendati begitu, kebijakan ini mendapat reaksi keras dari para peneliti. Mereka berpendapat bahwa tindakan itu sangat berbahaya. Sebab, akan memicu virus kembali bermutasi.

Meskipun Inggris memiliki tingkat vaksinasi yang relatif tinggi, Tapi kenyataannya ada lebih dari 30.000 infeksi baru setiap harinya.

Berdasarkan jurnal medis bergengsi The Lancet awal bulan ini, lebih dari 120 ilmuwan internasional mengatakan kemudahan pembatasan di Inggris hanya memberikan kekebalan dicapai dengan vaksinasi untuk beberapa orang. Tetapi virus dibiarkan menginveksi.

‘’Senin yang dianggap hari kebebasan, tapi disatu sisi pemerintah Ingrris telah membuat eksperimen berbahaya,’’kata para peneliti. (sumber:CGTN)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan