Sementara itu, Pasien Covid-19 lainnya, warga Desa Gajah Mekar, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, mengeluhkan kurangnya perhatian dari pihak pemerintah atau dinas terkait kepada pasien Covid-19 yang melaksanakan isolasi mandiri.
“Kami sudah 12 hari melaksanakan isolasi mandiri. Namun pihak pemerintah jajaran atas maupun bawah tak ada perhatiannya. Mereka hanya menanyakan kondisinya saja, tapi untuk memberikan bantuan bahan makanan tak ada sedikitpun,” ungkapnya.
Dirinya mempertanyakan anggaran Covid-19 yang digembor-gemborkan sangat besar, tetapi kepada pasien Covid-19 tidak ada sama sekali.
Baca Juga:Sanksi Sosial Menanam Pohon Diberikan Kepada Pelaku Penebang PohonKang Emil Bertemu Dua Petinggi Parpol, Ada Apa Nih?
“Saya bukannya mau dikasih, tapi sangat miris apabila yang terkonfirmasi Covid-19 orang yang kehidupannya di bawah, mereka mau makan dari mana,” katanya.
Saat disinggung kenapa tak isolasi di BLK, dia pun mengatakan sudah berkomunikasi, namun pihak Dinas Kesehatan menyebut RS dan BLK saat ini sedang penuh.
“Mereka (Dinas terkait) bilang karena BLK penuh maka kami harus menjalankan isolasi mandiri. Namun tak pernah dilakukan pemantauan sekali pun ke rumah. Bahkan mengeluhkan melalui WhatsApp pun beberapa jam kemudian baru dibalas, dengan alasan banyak pasien. Tak terbayang kan apabila pasiennya kritis di rumah. Maka saya berharap, pihak pemerintah memperhatikan juga pasien Covid-19 yang melaksanakan isolasi mandiri,” pungkasnya.
Menurut pantauan, tidak hanya Rumah Sakit yang mengalami lonjakan pasien. Terpantau setiap klinik 24 jam di wilayah Kabupaten Bandung terlihat selalu penuh, apalagi klinik yang menyediakan tes antigen maupun PCR, terlihat padat. Hal tersebut terjadi usai libur Lebaran. (yul)
