Sebelum Serang Palestina, Israel Dikabarkan Beli Bom Pintar Pada AS

GAZA – Hingga hari kesembilan, pasukan Israel masih melakukan penyerangan ke Palestina dan terus memakan korban. Terungkap, sepekan sebelum penyerangan terjadi, Gedung Putih menyetujui penjualan senjata yakni bom pintar senilai USD 735 juta atau setara Rp 10,2 triliun ke Israel.

Beberapa legislator Amerika Serikat mempertanyakan apakah persetujuan penjualan senjata oleh Joe Biden senilai USD 735 juta ke Israel dapat digunakan sebagai pengaruh di tengah pemboman berkelanjutan di Jalur Gaza. Penjualan senjata yang diberitahukan Kongres pada 5 Mei, seminggu sebelum eskalasi Israel-Palestina dimulai, termasuk Joint Direct Attack Munitions (JDAMs), digunakan untuk mengubah bom menjadi peluru kendali presisi, menurut Washington Post.

Beberapa legislator mengatakan penjualan senjata itu dapat memicu gelombang oposisi di Kongres, di mana kritik terhadap dukungan pemerintah Biden terhadap Israel di tengah konfrontasi. “Membiarkan penjualan bom pintar yang diusulkan ini dilakukan tanpa menekan Israel untuk menyetujui gencatan senjata hanya akan memungkinkan pembantaian lebih lanjut,” kata seorang legislator di Komite Urusan Luar Negeri DPR AS kepada Washington Post seperti dilansir Aljazeera.

Di bawah hukum AS, administrasi diharuskan memberi tahu Kongres tentang penjualan semacam itu. Legislator kemudian memiliki waktu 20 hari untuk mengesahkan resolusi yang menentang penjualan.

Sementara itu, Joe Biden mengatakan dirinya berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin sore (17/5) mengenai konflik dengan warga Palestina di Gaza. Biden memberikan komentar tersebut menanggapi pertanyaan dari wartawan.

Sementara itu, utusan Amerika Serikat dan Wakil Asisten Sekretaris untuk Urusan Israel dan Palestina Hady Amr bertemu dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Senin (17/5) seperti laporan Nida Ibrahim dari Al Jazeera. Menurut pernyataan oleh WAFA, kantor berita resmi, dikatakan bahwa Presiden Abbas telah mendesak AS untuk campur tangan dan menekan Israel untuk menghentikan agresi terhadap orang-orang Palestina di Jalur Gaza yang terkepung. Kemudian, di Yerusalem Timur yang diduduki dan di semua Tepi Barat.

Palestina mengatakan tidak terlalu percaya bahwa upaya diplomatik akan mengarah pada de-eskalasi. Total korban tewas sejauh ini sebanyak 200 jiwa. (jawapos.com)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan