Ada cara alam yang sebetulnya murah, yaitu dengan hutan, dengan infiltrasi. Namun hutan kita sulit dikembangkan. Maka salah satu alternatif adalah dengan konsep pemanenan hujan. Idenya sangat sederhana, di mana hujan yang jatuh itu kita kumpulkan dan kita masukkan ke dalam sumur-sumur agar bisa digunakan,”paparnya.
Konsep pemanenan hujan dapat menghemat air tanah, terutama bagi pelaku usaha atau industri. Mungkin air hujan tidak bisa digunakan untuk memasak. Akan tetapi, air hujan bisa digunakan untuk membersihkan rumah, mobil, atau menyiram tanaman. Sebab, selama ini kegiatan menyiram tanaman masih menggunakan air PDAM. Iapun menyayangkan belum ada kebijakan yang mengatur hal tersebut.
“Industri menggunakan sumur dalam. Seharusnya bisa menggunakan air hujan dan recycle, sehingga tidak harus menunggu hujan berikutnya untuk memanfaatkan airnya. Aturan kebijakan harus mengarahkan tadi, agar tidak terlalu banyak menggunakan sumur air dalam dan PDAM. Tapi sekarang belum ada kebijakan yang mengatur hal tersebut,”ujarnya.
Baca Juga:Pemda DKI Dinilai Tidak Siap Mengantisipasi Pengunjung Pasar Tanah Abang yang MembeludakSerius Turunkan Emisi, PLN Group Raih 4 Penghargaan Emisi Korporasi 2021
“Pemanenan air hujan bisa mengurangi penggunaan air sumur dalam dan PDAM. Karena di kota Bandung itu, kalau kita lihat peta dalamnya, sekarang tanahnya itu sudah semakin banyak yang merah. Artinya sebenarnya sudah enggak boleh diambil lagi kedalaman 100 meter di bawah permukaan tanah. Kalo sumur penduduk itu kan dangkal itu. Cuma sekitar 30 meter di bawah permukaan tanah,”terangnya.
Prinsipnya, air hujan ditampung dan dialirkan ke dalam tempat yang bisa digunakan langsung, berbeda dengan recharge area yang hujannya meresap ke dalam tanah dan menjadi sistem air tanah. Konsep pemanenan air hujan itu menampung dan mengalirkannya ke dalam tangki-tangki penampung air, atau ke dalam sumur resapan.
Untuk membuat penampungan air hujan tersebut, ia menyarankan bahwa pembangunan embung atau kolam retensi sebaiknya dibangun dalam skala kecil atau menengah.
“Buatlah small to medium scale. Jangan large scale karena cost (biaya)-nya terlalu besar, social cost-nya terlalu besar,”ia mengingatkan.
“Jadi kecil itu indah karena lebih mudah untuk mengelolanya. Kita tidak perlu besar-besar tapi kecil menengah yang banyak. Itu dari segi kebijakan,”tambahnya.
