oleh

Nasib Industri Buku di Ujung Tanduk, JJ Rizal Sarankan Pemerintah Bentuk Dewan Perbukuan Nasional

“Artinya kita harus mengorbankan 4 tahun itu laku-enggak-laku kita harus kerja bakti enggak dapat untung sama sekali. Karena ongkos produksi 40 persen, royalti 10 persen udah 50. Terus kalau kita masuk distributor besar kaya Gramedia gitu minta 50 persen, jadi kita menghadapi problem sebenarnya,” tambahnya lagi.

Ia menuturkan bahwa selama ini banyak yang tidak tahu kondisi riil yang dihadapi dirinya bersama rekan-rekannya di Kobam. Bahwa faktanya hari ini bukan Kobam kehabisan stok pengetahuan untuk diproduksi secara luas, melainkan terganjal oleh infrastruktur distribusi pengetahuan yang terbatas.

Baca Juga:  Puan Kritik Ketidak Kompakan Komunikasi Pemerintah: Jangan Buat Rakyat Bingung

“Jadi komunitas bambu itu bisa memproduksi buku-buku yang boleh dikatakan berbobot untuk mencerdaskan kehidupan bangsa untuk mengetahui apa-apa Indonesia ini. Tapi kita enggak punya cukup infrastruktur untuk mendukung bagaimana buku-buku yang baik itu bisa tiba ke pembaca di seluruh Indonesia dengan cepat dan murah,” urai dia.

Rizal juga tak menampik kalau kontrak kerja sama penjualan dengan toko buku Gramedia belakangan sudah diputus lantaran tak mampu memutar modal untuk operasional.

Baca Juga:  Kobarkan Revolusi Indonesia 2021, HMI: Jokowi Harus Turun

Ia mengatakan, dengan ceruk pembaca yang amat terbatas ditambah biaya distribusi yang mahal membuatnya mengambil keputusan untuk memasarkan buku-buku Kobam secara mandiri.

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga