DEPOK – Bak cinta terlarang, begitulah nasib sebuah monumen sejarah di Kota Depok, yang diberi nama Tugu Cornelis Chastelein. Hingga kini sebagian warga masih memperdebatkan keberadaannya, sampai ada yang meminta agar bangunan itu dilenyapkan.
Mengenai tugu tersebut, sebagian warga berharap agar bangunan bersejarah itu perlu dirawat mengingat banyak muatan historis yang dapat dipetik darinya.
Sementara itu, ada sebagian warga yang memprotes keberadaannya. Mereka berdalih tugu tersebut bukan sebuah monumen untuk mengenang seseorang karena kepahlawanannya. Tepatnya, mereka mengklaim kalau monumen itu untuk mengenang sang (tokoh) penjajah bernama Cornelis Chastelein.
Baca Juga:Teras Cihampelas Kembali Diaktivasi, PKL Mulai Lakukan PembenahanWaspada! Begini Cara Tepat Bersihkan Kulit dari Krim Abal-abal
“Dengar-dengar sih dia (Cornelis Chastelein) itu seorang penjajah, ya kalau penjajah ya masa pantas dikenang,” ujar salah seorang warga Kelurahan Cisalak bernama Muwalim kepada awak media, Rabu (10/3).
Sejarah mengenai tugu tersebut sampai sekarang pun masih simpang siur. Konon tugu Cornelis itu sempat dibangun pertama kali sejak pra kemerdekaan dalam rangka memperingati kematian Cornelis Chastelein.
Akan tetapi, tugu teesebut kembali dirtakan oleh pemerintah di penghujung pemerintahan Presiden Soekarno.
Tugu Cornelis Chastelein baru mulai dibangun kembali sejak 2014 atas inisiasi pengurus Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC). Saat akan dibangun, oleh Pemerintah Kota Depok di masa kepemimpinan Wali Kota Nur Mahmudi Ismail sempat lakukan pelarangan.
Alasan pelarangan pembangunan tugu tersebut tak lain karena sosok Cornelis Chastelein yang dinilai sebagai sosok penjajah, alih-alih sebagai pahlawan yang butuh dikenang.
Meski begitu anggapan bahwa Cornelis Chastelein merupakan seorang penjajah bengis justru ditepis oleh pihak YLCC. Menurut pihak YLCC sosok Cornelis bukanlah seorang penjajah yang kejam sehingga harus dikutuk, sebab ia, katanya, seorang penjajah yang punya sisi humanitas tinggi.
Tokoh betawi Depok, Tri Yogi saat dihubungi wartawan Jabarekspres.com, Rabu (10/3) untuk memintai pendapat terkait Tugu Cornelis Chastelein ini memilih tak banyak berkomentar.
Baca Juga:Nadiem: Kemendikbud Tidak Pernah Berencana Menghilangkan Pelajaran AgamaAnak Muda Jawa Barat Kini Punya Wadah Menampung Karya UMKM dan Ekonomi Kreatif, Lido Music & Arts Center
Menurutnya, jika memang tujuannya baik silahkan tugu tersebut dijaga dan dilestarikan nilai budayanya.
“Namanya bangunan bersejarah, kalau itu baik ya diambil sisi postifnya aja. Kalau saya sih gak mau repot ya, apalagi tugu itu sempat jadi perkara serius,” tandas Yogi.
