Bob menjelaskan, penurunan konsumsi energi listrik terbesar terjadi di kelompok pelanggan industri -11.7% dan di kelompok pelanggan bisnis sebesar -4.4%, sedangkan di kelompok pelanggan rumah tangga justru mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 10.9%.
“Dengan kondisi tersebut, kami berharap konsumsi energi listrik dapat bertumbuh lagi di sektor pelanggan rumah tangga, dengan dukungan pemprov melalui konversi kompor gas ke kompor induksi, perubahan menuju electrifiying lifestyle dan penggunaan eco moving,” jelas Bob Saril.
Lebih lanjut, kata dia, untuk meningkatkan penggunaan kompor induksi di masyarakat, PLN juga selalu menyosialisasikan hal tersebut pada tiap kesempatan, dan sampai saat ini telah membagikan sebanyak 5.965 kompor induksi kepada berbagai komunitas di masyarakat Jabar.
Baca Juga:Tak Muluk-Muluk Soal Izin Liga, PBB Berharap Kompetsi Nyata DigelarKanker Otak
“Untuk mendukung kebutuhan masyarakat menuju perubahan ke electrifiying lifestyle, PLN juga telah menyediakan Stasiun Penyedia Listrik Umum (SPLU) sebanyak 471 titik tersebar di wilayah Provinsi Jawa Barat dan 1 unit (Stasiun Penyedia Kendaraan Listrik Umum) SPKLU di Gedung Sate ini untuk mendukung penggunaan eco moving,” katanya.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, sampai saat ini, elektrifikasi sudah 99,5 persen. Sebab, masih ada 0,5 persen yang belum memperoleh pasokan listrik karena itu ada di puncak gunung.
“Manusia bermukim di dusun-dusun yang curam dan susah maka saya sedang tugaskan di zaman saya kalau bisa 100 persen dengan inovasi yang mungkin bukan PLN tapi dengan sesuatu lain apakah dengan solar sell atau di dusun ditemukan angin kalau teknologinya ada,” kata Emil.
Menurutnya, tantangannya memang ada di situ. Definisi elektrifikasi sendiri, bukan semuanya oleh PLN. “Dengan kendala geografis kita cari inovasi-inovasi lain untuk listrik. Tapi kalau PLN bisa ya alhamdulillah tapi kalau melihat realitanya tidak sesederhana ini. Mudah-mudahan, dua tahun lagi bisa 100 persen,” pungkasnya. (mg1/drx)
