CIKALONGWETAN – Sejumlah warga tidak terima dengan kehadiran 2 alat berat ke tengah-tengah pemukiman di RT 01/RW 11 Kampung Warung Domba, Desa Mandalamukti, Kec. Cikalongwetan, Kab. Bandung Barat.
Diduga lahan itu akan kembali digunakan perusahaan peternakan ayam yang sebelumnya sudah diratakan dengan tanah. Hal ini disampaikan oleh salah seorang perwakilan warga setempat, Joko Suryono (42).
“Perusahaan peternakan PT Ciungwanara sudah beroperasi selama 30 tahun dengan 17 kandang di lahan seluas 7 hektar, tapi sudah ditutup setahun terakhir ini karena bau busuk dan lalat yang dimunculkan dari peternakan ayamnya. Tak diduga, PT Ciungwanara mendatangkan 2 alat berat yaitu bulldozer dan beko, alasannya untuk membangun gedung baru dan sudah berlangsung selama 2 minggu,” ungkap Joko, Kamis (17/12).
Baca Juga:Polisi Tolak Izin Keramaian Tahun BaruRp144 Miliar Lebih Untuk Siswa RMP
Dia menuturkan, peternakan ayam itu sangat merugikan bagi lingkungan sekitar, ditambah posisinya yang dianggap sudah tidak layak jika kembali beroperasi. Ketika didatangi warga, operator alat berat yang telah beroperasi selama 2 minggu itu, berdalih sudah berkoordinasi dan diizinkan oleh Kades setempat. Terkait permasalahan ini, warga akhirnya mengadu kepada pihak terkait.
“Ketika masih beroperasi, peternakan ayam itu posisinya sudah tidak layak karena dekat sekali dengan pemukiman warga setempat, kurang lebih 50 meter. Bahkan salah satu dindingnya menempel dengan tembok rumah warga. Kami mengadu kepada pihak Kecamatan dan mereka berjanji akan menelusuri permasalahan ini, siapa yang memberi izin sebenarnya?,” bebernya.
Akhirnya upaya warga menemukan titik terang, Kades Mandalamukti mengadakan pertemuan dengan pihak perusahaan beserta perwakilan dari pejabat di Kecamatan Cikalongwetan, Badan Pengawas Desa (BPD), Binamas, RW, serta warga setempat. Namun sayangnya warga kecewa lantaran hanya perwakilan perusahaan serta pemilik alat berat yang hadir, sedangkan pemilik PT Ciungwanara tidak nampak batang hidungnya.
“Kita hadir pada pertemuan di Desa, 50 perwakilan warga mau bertemu dengan Haji Jalil sebagai pemilik peternakan, tapi dia tidak datang. Kami kecewa karena selama 30 tahun peternakan ayam itu berdiri, Haji Jalil belum pernah muncul atau sekadar menyapa warga. Padahal selama ini kami dirugikan, itulah alasan saya memutuskan untuk walk out!,” tandasnya.
