Ramai-Ramai Kritik Ceramah Habib Rizieq

Habib Rizieq Sebut Rekayasa KM 50 dengan Pembunuhan Brigadir J Mirip
Doc. Habib Rizieq Syihab saat memberikan ceramah pada peringatan Maulid Nabi di DPP FPI, Petamburan, Jakarta. Foto: Youtube/@FRONT TV
0 Komentar

“Memang kalau berbicara soal nilai etika dan perilaku, berlaku pada siapa saja. Siapa pun dia harus sesuai berperilaku sesuai norma etika dan kepatutan yang berlaku di masyarakat, apalagi dalam konteks keagamaan,” katanya.

Demikian juga dilontarkan Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas.

“Sebenarnya, sebutan apapun itu kan bebas nilai ya. Untuk menyebut perempuan nakal misalnya ada lonte, PSK, WTS, dan sebagainya. Hanya kemudian, tempat di mana kata itu diucapkan yang kemudian memberi nilai,” ucapnya.

“Di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang seharusnya di mana umat diajarkan untuk mengingat kebaikan dan ajaran-ajaran Nabi yang mulia, bahkan dipercaya di saat maulid itu Nabi hadir, pengucapan kata ‘lonte’ itu sungguh sangat tidak sopan, merendahkan perempuan,” lanjutnya.

Baca Juga:Delapan Galian Tak Berizin DitutupPemkab Karawang Diminta Serius Bereskan Masalah BUMD LKM

Yaqut menyebut Nabi Muhammad menghargai perempuan, maka seharusnya Habib yang disebut merupakan turunan atau Dzurriyah Nabi Muhammad, tidak seharusnya berujar demikian.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzily juga mengingatkan agar Habib Rizieq menjaga tutur kata sebagai bagian dari bentuk akhlak.

“Menjaga diri untuk bertutur kata yang baik dan menjaga lisan itu salah satu akhlak yang baik. Jelas itu diperintahkan Rasulullah SAW. Itu harus kita pegang dan pedomani, apalagi saat kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW,” katanya.

Politisi Golkar ini awalnya menduga kepulangan Habib Rizieq dari Saudi akan ada perubahan dari sisi tutur katanya. Seperti jargon yang dibawa Rizieq untuk melalukan revolusi akhlak.

Dia pun mengingatkan soal mengikuti anjuran Nabi Muhammad, Yakni memulai hal baik dari diri sendiri.

“Mari kita sama-sama teladani akhlak Rasulallah SAW. Dimulai dari kita sendiri sebagaimana sabdanya: Ibda’ binnafsik, mulailah dari diri kita sendiri,” ucapnya.

Sementara ahli Tafsir Indonesia, Muhammad Quraish Shihab justru enggan menyandang gelar habib. Padahal dia salah satu yang dianggap mempunyai garis keturunan Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga:Ormas LMP Geruduk ULP Kabupaten BekasiDPMD Pastikan Jadwal Pilkades di Kabupaten Sumedang Tidak Berubah

Dikutip dari siaran langsung di Fan Page Facebook Najwa Shihab, Mufasir dan Menteri Agama era Soeharto itu menjelaskan alasan dirinya enggan dipanggil ‘Habib’.

Menurut Quraish, gelar Habib tidak boleh disandang oleh sembarang orang kecuali memenuhi syarat tertentu. Diantaranya, faktor keilmuan, silsilah keluarga, dan akhlaknya yang benar-benar meneladani Rasulullah SAW.

0 Komentar