Gara-gara Harganya Anjlok, Petani Lembang Biarkan Tomat Membusuk

Gara-gara Harganya Anjlok, Petani Lembang Biarkan Tomat Membusuk
0 Komentar

LEMBANG – Tomat hasil tanam petani di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, yang sudah berwarna merah menyala dan berukuran besar serta siap dipanen dibiarkan membusuk di pohon dan jatuh dengan sendirinya ke tanah.

Hal itu dilakukan para petani lantaran kecewa sejak beberapa bulan belakangan harga jual tomat merosot tajam hingga menyentuh angka Rp 500 perkilogram dari petani ke tengkulak.

Di kebun sayuran milik Tihar, tomat masih menempel di tangkai namun kondisinya sudah membusuk. Sebagian lagi sudah berjatuhan di tanah dan hancur terinjak-injak.

Baca Juga:Riskan Penularan Covid-19! KPU Kab. Bandung Malah Berikan Izin Gelar Kampanye dengan Konser MusikPemkot Cimahi Berencana Pungut Restribusi Para Pekerja Asing di Proyek KCIC

“Ya terpaksa dibiarkan membusuk saja, kalau dipanen juga harganya jatuh. Kalau ada yang mau saya engga pernah larang, tinggal ambil sepuasnya,” ungkap Tihar, Kamis (17/9).

Selain karena harga jualnya yang merosot, jika tomat dipanen maka ia harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membayar buruh petik dan angkut ke tengkulak.

“Rugi kalau dipetik, nanti saya harus bayar ongkos petiknya terus ongkos angkut. Minimal itu seorang bisa Rp 50 ribu. Dan ada beberapa orang yang petik, jadi biaya lagi. Sedangkan keuntungan nihil,” katanya.

Akibat turunnya harga tersebut, keuntungan hingga ratusan juta yang didapat dalam sekali panen tak akan terjadi kali ini. Padahal, untuk sekali panen dirinya harus mengeluarkan biaya operasional hingga Rp 130 juta.

Modal tersebut digunakan untuk menggarap lahan 2 hektare miliknya yang ditanami tomat dan cabai. Dalam sekali panen, produksi tomat miliknya bisa mencapai 4 kwintal jika kondisi sedang bagus.

“Kalau harganya Rp 5 ribu aja biasanya dapat sampai Rp 300 juta sekali panen. Kalau sekarang buat modal aja belum balik sepeser pun,” sebutnya.

Menurutnya, penyebab anjloknya harga sayuran ini dikarenakan kondisi ekonomi yang terpuruk, sehingga daya beli masyarakat yang turun setelah munculnya wabah Covid-19.

Baca Juga:30 Kecamatan Masuk Zona Merah, Oded Minta AKB DiperketatSelama Pandemi Covid-19 Stok Darah PMI Tidak Sebanding dengan Permintaan

Dikatakannya, jika dalam dua bulan ke depan kondisi masih seperti ini, diyakini petani menengah ke bawah akan gulung tikar karena kehabisan modal. “Karena kondisinya kaya gini, jadi lebih banyak di rumah. Jadi stres juga modalnya gak balik,” tuturnya. (mg6/yan)

0 Komentar