Gubernur Borong Alat Tes Kit Covid-19 dari Korea Selatan

Gubernur Borong Alat Tes Kit Covid-19 dari Korea Selatan
LAUNCING APLIKASI: Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil secara resmi me-launching aplikasi PIKOBAR (Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Jawa Barat) di Jabar Command Center, Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (20/3). (Foto: Pipin/Humas Jabar)
0 Komentar

BANDUNG – Untuk mencegah penyebaran covid-19, Gubernur Provinsi Jawa Barat Ridwan Kamil segera mendatakan alat tes kit yang berasal dari Korea Selatan.

Bahkan, alat pengetesan yang didatangkan ini, berbeda dengan yang ada di Pusat yang lebih memilih impor dari China.

Dipilihnya Korea Selatan untuk membeli tes kit karena alat itu memiliki banyak kelebihan lebih cepat, lebih akurat, lebih canggih.

Baca Juga:Antisipasi Penyebaran Covid-19, Kodim 0624/Kab Bandung Bantu Lakukan Penyemprotan DisinfektanPemprov Jabar Segera Datangkan 10 Ribu Alat Tes Kit Virus Korona.

’’Informasi itu ada dari minggu lalu, kalau barang dari china itu lebih cepat juga, kita mana aja yang ada itu kita pakai,” ucapnya di Gedung Sate, Jumat (20/3).

’’Jadi alat yang dipakai dilab Kesda Jabar, adalah tes kit yang datangnya dari korea selatan. Karena dianggap salah satu tes kit terbaik,’’tambah dia.

Terkait pelacakan warga Jabar yang mengikuti pengajian di Malaysia, Bogor dan juga Goa Sulawesi Selatan, Pihaknya masih terus melakukan pelacakan data warga tersebut.

“Saya juga sudah telepon langsung Gubernur Sulawesi Selatan karena dari catatan kita sekitar 400an orang Jawa Barat ikut acara ijma dunya itu. Jadi kita sangat proaktif, tapi di level kota dan kabupaten yang kita tugaskan,” katanya.

Untuk daerah yang positif di Jabar sendiri, Emil memaparkan, sangat pentingnya peta sebaran wilayah. Karena di dalamnya terdapat data wilayah mana yang terpapar, dari ODP, PDP sampai positifnya.

“Itulah pentingnya peta persebaran, kalau warna biru adalah orang yang di pantau, tapi birunya berbeda-beda. Ada yang masih dipantau ada yang sudah selesai dipantau,” ucap Emil sambil menunjukan peta Wilayah kepada wartawan.

“Kita tidak sebut namanya, tidak menyebutkan alamatnya. Kita cukup hanya sebut usianya, desa atau kelurahan. Supaya kepala desa tetap waspada, supaya kelurahan waspada, supaya warganya juga waspada,” lanjutnya.
Pihaknya mengingatkan, bahwa orang yang terinfeksi di Jabar, tidak semuanya berawal di Jabar. Karena hampir setengahnya terinfeksinya di Jakarta, tapi domisili di Jabar.

Baca Juga:Mendagri Minta untuk Kades Segera Ajukan APBDes, Dana Desa yang Belum Ditransfer Masih 60 PersenTempat Karaoke Hotel Berbintang Jadi Bisnis Esek-esek Terselubung, Ada Paket Gold Tarifnya Tiga Jutaan

“Seperti yang Bekasi, meninggalnya tidak di Bekasi, dia perawat yang meninggal di Jakarta tapi ktpnya Bekasi,” pungkasnya. (mg1/yan)

0 Komentar