Bupati: Jangan Sekedar Pajangan, IPAL Harus Berfungsi Ideal

Bupati: Jangan Sekedar Pajangan, IPAL Harus Berfungsi Ideal
MENANDATANGI: Bupati Bandung Dadang M. Naser (kedua kanan) didampingi Sekda Teddy Kusdiana (kedua kiri) dan Asisten Ekonomian dan Pembangunan Marlan (paling kiri) Bersama Kepala Puslitbang SDA Eko Winar Iranto, (paling kanan) saat menandatangani Naskah Perjanjian Hibah (NPH) dan Berita Acara Serah Terima (BAST).
0 Komentar

SOREANG – Pusat Peneliti­an dan Pengembangan Sum­ber Daya Air (Puslitbang SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Re­publik Indonesia sepenuhnya menyerahkan hibah aset dan Instalasi Pengolahan Air Lim­bah (IPAL) Cisirung, kepada Pemerintah Kabupaten (Pem­kab) Bandung.

Bupati Bandung Dadang M. Naser dan Kepala Puslitbang SDA Eko Winar Iranto, me­nandatangani Naskah Perjan­jian Hibah (NPH) dan Berita Acara Serah Terima (BAST) Barang Milik Negara (BMN) IPAL yang dihibahkan tersebut dalam bentuk tanah seluas 155 m2 dan bangunan IPAL dengan nilai perolehan total sekitar Rp. 3 miliar.

”Dulu kami hanya mengel­ola, sekarang dihibahkan seluruh aset dan lahannya. Oleh karenanya, saya atas nama Pemkab Bandung mengucapkan terima kasih kepada Puslitbang SDA,” ka­tanya usai menandatangani berita acara di Ruang VVIP si Jalak Harupat Kecamatan Kutawaringin, Senin (6/1).

Baca Juga:Panwascam Harus Paham AturanDua Traktor Milik Pemkab Digondol Maling

Menurutnya, sejak berdiri pada tahun 1994, puslitbang baru menyerahkan pengel­olaan IPAL Cisirung kepada pemkab pada tahun 2000. Proses pengalihan asetnya sendiri, sudah berlangsung sejak tahun 2006 saat Kabu­paten Bandung dipimpin (Alm) H.U. Hatta Djatiper­mana. Namun baru saat ini bisa direalisasikan. Meski demikian, konsultasi deng­an Puslitbang SDA masih tetap dibutuhkan pihaknya.

“Meskipun sudah diserahkan sepenuhnya, namun kami harap puslitbang tetap mem­berikan bantuan secara teknis. Terutama dalam meng up­grade kinerja IPAL Cisirung,” jelasnya.

Dadang menjelaskan, sejauh ini untuk pengelolaan IPAL Cisirung, pemkab bekerja sama dengan PT. Mitra Ci tarum Air Biru (MCAB). Se­telah penyerahan secara penuh, ia berharap pengel­olaannya dapat ditingkatkan. Hal itu diperlukan sebagai salah satu upaya mengurangi beban pencemaran Sungai Citarum.

”Jumlah IPAL di kita belum ideal. Masih diperlukan lagi di wilayah Majalaya dua IPAL dan satu di kawasan Ranca­ekek. Sementara ini, ting­katkan kapasitas dan kuali­tas IPAL Cisirung, agar ide­al dalam menangani masa­lah pencemaran Sungai Citarum. IPAL harus berfung­si baik, bukan sekedar eta­lase dan pajangan,” tegasnya.

Beberapa upaya penanganan banjir Bandung Selatan, ucap­nya, seperti Terowongan Nanjung dan Kolam Retensi Cieunteung, saat ini damp­aknya sudah mulai bisa dira­sakan masyarakat. ”Apalagi bila ditambah Kolam Reten­si Andir plus embung-embung di atasnya. Kita harus terus belajar dari negara maju, terus berbuat bersama-sama, tidak ego sektoral, tidak ingin hebat sendiri. Indonesia harus kom­pak, Sabilulungan menang­ani masalah lingkungan,” pungkasnya. (yul/rus)

0 Komentar