Pesantren Laboratorium Perdamaian

Pesantren Laboratorium Perdamaian
SAPA PESERTA: Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyapa para peserta upacara peringatan Hari Santri Tahun 2019 di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro No. 22, Kota Bandung, Selasa (22/10).
0 Komentar

Kelima, pesantren merupakan tempat tumbuhnya komunitas kesenian dan sastra. Seni dan sastra sangat berpengaruh pada perilaku seseorang sebab dapat mengekspresikan perilaku yang mengedepankan pesan-pesan keindahan, harmoni, dan kedamaian.

Keenam, pesantren melahirkan beragam kelompok diskusi dalam skala kecil maupun besar. Dialog kelompok dapat membentuk karakter santri yang terbuka terhadap hal-hal berbeda dan baru.

Ketujuh, pesantren merupakan tempat merawat kearifan lokal. Relasi agama dan tradisi begitu kental dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehingga pesantren menjadi ruang yang kondusif di tengah arus zaman yang semakin pragmatis dan realistis.

Baca Juga:Indonesia Raih Juara Umum di Ajang ITMODemokrat Hargai Hak Prerogatif Jokowi

Kedelapan, pesantren selalu mengedepankan prinsip maslahat (kepentingan umum) yang merupakan pegangan yang sudah tak bisa ditawar lagi.

”Tak ada cerita orang-orang pesantren meresahkan dan menyesatkan masyarakat. Justru santri adalah kalangan yang membina masyarakat, baik soal moral maupun intelektual,” tegasnya.

Terakhir, pesantren sebagai tempat penanaman spiritual. Tidak hanya soal hukum Islam, tapi juga melatih para santri untuk tazkiyatun nafs (pembersihan hati).

”Sehingga, akan melahirkan pikiran dan tindakan yang bersih dan benar. Karenanya, santri jauh dari pemberitaan tentang intolerasni, pemberontakan, apalagi terorisme,” pungkasnya.(dsdkjbr/ziz)

0 Komentar